2nd Wedding Anniversary, Dua Tahun yang Penuh Keasyikan

30 Mei

29 Mei 2018! Wow ga terasa udah 2 tahun sejak gw ijab kabul di Mesjid At Tin. Lalu, gimana rasanya nikah 2 tahun? Well, banyak hal yang dilakukan bersama. Meskipun ga mudah menyatukan 2 pribadi yang berbeda, jika dilalui dengan penuh kesyukuran maka akan jadi asyik!

Satu hal yang gw sadari adalah seiring berjalannya waktu, kami membuat habit baru yang merupakan hasil negosiasi dari habit masing-masing. Negosiasinya bukan hasil rembukan lho… tapi terbentuk secara tidak sadar. Intinya saling menyesuaikan dan beradaptasi.

Contoh simpelnya gini, suami gw kalau pakai odol itu harus dipencet dari bawah. Jadi kemasan paling bawah akan kosong karena menurut dia lebih efisien. Gaya itu beda banget sama gw yang asal pencet yang penting keluar. Sekarang, tanpa gw sadari gw melakukan kombinasi. Pas naro odol disikat, gw akan pencet sembarangan. Tapi begitu selesai sikat gigi, gw akan rapihin lagi posisi odol biar yang kosong tetap di bawah. Kelihatannya ga penting ya? Tapi perlu diingat, kadang perbedaan habit kecil begini ini yang bisa membawa keangkara murkaan! Dengan bernegosiasi dan beradaptasi sejak awal akan mengurangi resiko kesalahpahaman di masa depan. Wkwkwk.

Contoh lainnya penggunaan uang. Sebelum nikah, gw dan suami udah ngomongin berapa perkiraan biaya bulanan yang akan keluar. Pos mana yang dia tanggung dan pos mana yang gw tanggung. Penting juga untuk memutuskan siapa yang akan pegang uang bulanan. Saran gw, pilih yang paling pintar dan hemat dalam mengelola uang, niscaya pengeluaran akan aman dan gak bengkak parah. Nah, seluruh rincian itu ditulis di buku pengeluaran yang gw siapkan khusus, diberi tanggal, dan ditanda tangani oleh kami berdua. Rincian ini bisa diubah sesuai hasil evaluasi bersama. Misal penggunaan AC bikin biaya listrik lebih mahal dari perkiraan, gw pun bikin revisi anggaran rumah tangga yang dilegitimasi bersama.

Lho kok kesannya ga percayaan banget? Well, berbekal pengalaman hidup, nasehat orangtua, dan curhat dari teman-teman yang udah nikah, kesimpulan gw adalah setiap hal yang berhubungan dengan uang harus diperlakukan dengan cara profesional. Sebab kata bapak gw, uang itu gak ada saudaranya. Keluarga kandung sedarah aja bisa ribut gara-gara uang, apalagi yang ga sedarah. Dan yang perlu diingat, suami istri walaupun mahram, tetap bukan satu darah. Persoalan uang memang sensitif. Jangan sampai suami/istri ngedumel dalam hati karena ada yang merasa terlalu berat untuk menafkahi atau merasa kurang dinafkahi, trus akhirnya curcol di medsos sehingga seluruh dunia tahu. Bisa perang dunia nanti!

Dalam rumah tangga gw, semua dilakukan sesuai prinsip “Right (wo)man in the right place”. Untuk urusan domestik rumah tangga, serahkan saja pada ahlinya! Contoh, suami gw lebih jago masak dari pada gw. Aku mah apa atuhhh… cuma pinter ngabisin makanan. Wkwkwk. Jadi, urusan belanja bahan makanan, masak, sampai cuci piring itu jadi tanggung jawab suami gw. Walaupun kitchen set gw warna pink (warna fave gw), tapi penguasanya adalah suami gw. Hohoho. Selain itu suami gw juga bertugas buang sampah dan beli galon.

Lalu, kerjaan gw apa? Gw lebih ahli bersih-bersih dari suami. Nyapu, ngepel, ngelap, gosrek toilet, itu semua kerjaan gw. Trus yang nyuci dan gosok siapa? Well, sejak kami ga pakai asisten rumah tangga, yaa sesuai prinsip utama. Serahkan ke laundry aja! Ahahahaa… Jaman sibuk kayak gini, kita harus hemat energi. Jangan terlalu capek nanti bawaannya emosi lho. Kalau emosi udah bermain, ujungnya bakal keluar kata-kata merasa tidak dihargai, tidak diperhatikan, tidak disayang, bla bla. Perang dunia lagi deh…

Ada juga kerjaan-kerjaan yang dilakukan bersama. Misalnya ganti seprei, cuci pakaian dalam, dan potong rumput halaman. Sistemnya gantian aja. Siapa yang gak mager dia yang ngerjain. Kalau mager dua-duanya ya gak usah dikerjain. Kadang juga kalau kami mager dengan tugas masing-masing, ya jangan dikerjakan dulu. Kalau suami lagi malas masak, ya tinggal beli makanan yang disuka. Kalau gw lagi malas beberes ya gak usah dipaksain. Gak usah terlalu ngoyo harus ini itu karena bakal stress sendiri.

Selain pembagian tugas rumah tangga, rutinitas tambahan juga harus didiskusikan bersama. Misalnya suami gw mau kuliah lagi, sebagai istri tugas gw adalah mendukung dia. Dari awal harus paham resiko dari rutinitas baru ini seperti dia bakal pulang malam plus sabtu kuliah seharian. Kalau suami mau nongkrong, dia juga selalu nanya ke gw dulu. Sebab dia tau, dalam perkataan istri itu ada sebuah pesan dari semesta untuk kemaslahatan dia. Jangan lupa, firasat istri itu mampu menembus ruang dan waktu yang seringkali menyelamatkan suami dari hal yang penuh marabahaya.

Sebaliknya, suami juga mendukung kegiatan istri. Misalnya gw mau konfrensi di sana sini, suami mendukung penuh. Biasanya sebelum apply, gw akan tanya dulu ke suami. Boleh ngga ikut konfrensi ini. Gw selalu nanya dulu walaupun gw tahu jawabannya selalu boleh. Wkwkwk. Buat gw, ini tuh kayak minta restu dan ridho suami karena setelah ijab kabul terjadi, tanggung jawab pindah dari orangtua ke suami. Percaya deh… kalo suami udah ridho, doanya akan menembus langit dan bikin kita sukses. Pernah lhoo gw iseng ga bilang-bilang. Ternyata gw gak lolos seleksi booo… Beda kalau gw bilang, jalannya dimudahkan dan rejeki itu selalu datang.

Dalam 2 tahun pernikahan ini, kami tau kalau cinta itu perlu dimaintenance, perlu dipupuk, perlu diingatkan biar gak lupa. Jangan absen untuk saling menyatakan “I love you”, jangan ragu untuk berpelukan, jangan malas untuk saling memuji dan mengatakan “Duh aku beruntung banget sih nikah sama kamu…”, “Kamu keputusan terbaik yang pernah aku ambil dalam hidup”, “Makasih sayang karena udah sayang aku”, dsb. Memang terdengar cheesy, but why not selama itu membuat 2 orang merasa saling melengkapi dan saling mensyukuri. Sebab jangan lupa, cinta itu harus terus diupayakan.

Jadi gimana rasanya 2 tahun nikah? Wooow penuh keasyikan! 😄😄😄

Jakarta, 30 Mei 2018

Chibi Ranran

Iklan

Pengalaman Beli Klippan di Ikea

25 Mei

Ada berita gembira nih gaes! Wkwkwk. Setelah hampir 2 tahun hidup tanpa sofa, akhirnya gw memutuskan untuk beli jugaaa~ yay! Maklum 1.5 tahun hidup di apartemen ga memungkinkan buat punya sofa. Jadilah gw ngemper di karpet pake kursi lipat lesehan yang ada di Informa. Dulu harganya 400rb untuk yang kulit warna hitam.

Nah, setelah deal mau beli sofa, bingung lagi deh tuh mau beli yang mana. Secara space rumah yang minimalis, jadi setiap perabotan yang dibeli harus diperhitungkan secara matang. Kemana-mana bawa denah dan meteran kuning dooong hahaha.

Kami sempat lihat-lihat di Fabelio. Wiiih gemes-gemes deh dan empuk pas didudukin. Lakik gw pengennya beli Taby 2 seater ukuran 160 cm x 80 cm, tapi ternyata kurang panjang untuk rebahan. Trus kita pun liat-liat Sofa L Elis biar bisa nonton sambil boboan. Tapi eh tapi, ternyata ukurannya 200 cm x 160 cm. Sementara, maksimal banget gw bisa beli yang ukuran 180 cm x 90 cm. Huhuhu. Cedih. Gudbai Elis-kuwh!

Setelah itu, gw pun liat-liat ke Ikea. Walau mayoritas sofa di sana berukuran besar, tapi ada juga yang kecil seperti Hemlingby yang ukurannya 145 cm x 72 cm. Harganya juga murce abis… Rp1.495.000 sajah. Tapi karena kekecilan, akhirnya ngelirik Klippan deh.

Klippan itu kategorinya sofa 2 dudukan, tapi ternyata bisa didudukin sama 3 orang. Trus ukurannya 180 cm x 88 cm yang sesuai dengan spec ruangan gw. Kalau tinggi kamu kurang dari 160 cm kayak sayah (wkwkwk), bisa rebahan di sofa ini tanpa perlu nekuk kaki. Tapi kalo tinggi kamu kayak suami gw yang 175 cm, kakinya gak bisa dipanjangin yesss.

Harga Klippan pun ga mahal, range Rp2.495.000 sampai Rp2.995.000 tergantung warna yang kamu mau. Ada abu, abu tua, kuning, dan aneka warna yang terdiri dari biru, putih, pink, kuning. Lakik sukanya abu tua (Rp2.795.000) karena secara tekstur lebih kuat dari si abu biasa. Yang asik dari Klippan ini adalah cover sofanya bisa dicuci dan diganti. Jadi kalau bosen dengan warna abu-abu, bisa beli cover lain. Sekalian ganti suasana jugak.

Pas gugling-gugling dan cari review soal Klippan, gw nemu komen yang bilang kalo nih sofa muat masuk ke Honda Jazz. Mobil gw kan Agya, karena sama-sama kecil gw pikir bakal muat. Pas coba ukur-ukur pun tampaknya bisa dibawa pake Agya sambil didirikan ke atas. Sebenarnya ada jasa pengiriman dari Ikea. Jadi setelah bayar kasih bisa drop barang yang akan dikirim sekitar 3 hari dengan biaya Rp350.000. Tapi karena greget ga mau nunggu lama, gw pun dengan pede mengangkut itu sofa ke dalam mobil.

11

Pas kami lagi berjibaku buat masukin Klippan, security Ikea pun nyemperin. Dia bilang “wah kayaknya ga muat ini. Kalau Avanza kayaknya bisa masuk. Tadi ada juga yang beli ini dan bawa pakai Honda Jazz. Harus dipreteli dulu baru bisa masuk”. Dan benar adanya saudara-saudara…. Klippan emang bisa masuk, tapi mentok sama kemudi, alias hanya Klippan aja yang bisa masuk tapi pengemudi ga kebagian space. Wkwkwk. Setelah bercucuran keringat dan bikin pinggang lakik gw encok, akhirnya kita nyerah dan pake jasa Gobox. Pakai pick up box jarak 32 kilo dari Ikea, ternyata ongkirnya sama sekitar Rp350.000. Ya sudahlah pakai Gobox aja biar cepet. Mana udah malam pula, hampir jam 10. Hiksss.

Mungkin karena udah malam, perjalanan dari Ikea ke rumah cuma memakan waktu 45 menit. Klippan sampai dengan selamat dan siap dirakit malam ini jugak! Ahahaha… Ga ada capeknya ni orang :p

Setelah istirahat sebentar, gw dan lakik pun mulai merakit Klippan. Saran gw sih memang harus dirakit oleh 2 orang karena agak berat kalau ngangkat-ngangkat sendirian. Tapi ada juga sih tutorial di Youtube yang dikerjain sendirian. Tapi daripada encok, mending together ajah…

Selama ini suami gw selalu suka bagian rakit merakit barang Ikea karena menurut dia ini kayak lagi main Lego. Asik dan menyenangkan. Gw pribadi sih agak males merakit-rakit soalnya capek dan biasanya bingung sendiri meskipun udah liat petunjuk pemasangannya. Tapi waktu itu gw pernah iseng pasang jemuran handuk Ikea dan ternyata berhasil tanpa bantuan orang lain. Sejak itu, gw jadi excited untuk ikutan pasang-pasang karena kayak lagi membangun sesuatu. From zero to hero. Hahaha.

Sila ceki-ceki progres pengerjaannya di slideshow bawah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Total waktu pemasangan kira-kira 1 jam kalau dikerjakan berdua. Seru dan terlalu susah kok masangnya. Tapi yang menjadi keluhan banyak orang itu memang pas pemasangan sarung atau cover. Soalnya ga ada keterangan sisi mana yang di depan dan belakang. Trus pas ngerapihin covernya untuk masuk ke dalam dudukan juga effort banget sih karena gak rapi-rapi. Huwaaaa… Memang sih Ikea nyediain kayak 2 selang gitu untuk ngerapihin si cover, tapi kok malah ga rapi juga. Hikss. Akhirnya diakali dengan cara ditutupin bantal. Hahaha.

Tapi ya manusia memang ga pernah puas. Gw pun masih penasaran sama cover yang gak rapih ini. Iseng-iseng gw pake kardus bekas bungkus Klippan untuk masuk-masukin si cover ke dalam dudukan. Dan ternyata bisa!! Tapi lama-lama peyot juga tuh kardus. Wah kayaknya butuh yang lebih kuat nih. Kebetulan di rumah ada bekas undangan kawinan. Lumayan ni kertasnya lebih tebal dan keras dari kardus. Much better! Tapi setelah beberapa kali penggunaan, tewas juga tuh undangan kawinan. Jadi saran gw adalah papan jalan yang terbuat dari mika plastik karena bahannya keras sekaligus lembut sehingga ga ngerusak cover sofa. Ini penampakannya setelah gw rapihin. Mendingan kan? Mayan lah ga bikin lecet kulit kuku hehehe 😀

Picture1

Setelah 2 minggu pemakaian, so far so gud. Empuk dan enak buat tiduran. Digeser-geser juga mudah. Tapi jangan lupa di kaki-kaki Klippan tempelin dulu bantalan anti lecet biarlantainya aman sejahtera. Kalau mau beli di Ikea ada di section perabotan meja dan kursi makan. Kalo gak salah harganya Rp19.000 untuk 1 set meja dan 4 kursi.

Skor gw untuk Klippan 4/5.

 

Jakarta, 25 Mei 2018

Chibi Ranran

Finally ke Washington DC, Amerika! (Tentang Paspor Biru dan Visa Dinas)

10 Mar

Akhirnyaaa~~ impian masa kecil terwujudkan juga! Akhirnya Amerikaaa!!

Hehehe. Tenang.. tenang. Mau tau gimana ceritanya gw bisa ke Amerika?

Jadi gini, tahun lalu gw ikut konferensi studi Asia di Toronto, Kanada. Penyelenggaranya Association for Asian Studies (AAS). Flight gw dari Jakarta ke Toronto ternyata melintasi Washington DC. Walaupun cuma lewat dari udara, gw bertekad dengan keyakinan kuat kalo 2018 gw akan ke sana!

Well, siapa sangka, konferensi AAS 2018 venue-nya di Marriott Wardman Park Hotel yang bertempat di Washington DC. Ibukotanya Amerika plus ada Lincoln Park yang pengen banget gw kunjungi. Gw bahkan punya foto Lincoln Park yang ditempel di pintu lemari baju. Jadi tiap bangun tidur yang langsung dilihat foto itu. Hahaha. Siapa sangka, semesta kembali mendukung langkah kaki gw. Alhamdulillah ya Allah…

Nah, balik lagi ke AAS, gw pun ngontak teman-teman untuk bikin panel di AAS. Karena tema abadi gw adalah hijab cosplay, gw pun membuat panel Islam and Japan Pop Culture. Kenapa Islam and Japan Pop Culture? Selain itu tema yang gw suka, tema itu pun sedang naik daun di kalangan scholar internasional. Kenapa mesti bikin panel? Karena menurut panitia, peluang lolos seleksi untuk panel lebih besar daripada apply individual.

Satu nama yang langsung muncul dalam otak gw adalah Suraya Md Nasir asal Malaysia yang lagi PhD di Kyoto Seika Daigaku. Gw ketemu dia waktu konferensi di Cebu, Manila dan temanya adalah Hijab Manga. Wah cucok meoooong ya cintt!

Lalu, nama kedua adalah Roberto Masami. Gw baru kenal dia waktu pertemuan Japanscope di Japan Foundation Jakarta. Waktu itu, gw sama dia dikelompokin dalam panel yang sama karena temanya Roberto adalah Halal Food.

Karena 1 panel isinya minimal 4 orang, gw pun mengontak Himmi alias Himawan Pratama yang kapabilitasnya ga perlu dipertanyakan lagi. Setelah ngobrol-ngobrol via WA, Himmi pun bersedia ikut dan tema yang akan dia angkat tentang novel Islami yang bertema jejepangan.

Olraaaait! Formasi sudah lengkap, gw pun membuat time table untuk tim. Kapan harus kumpulin abstrak individu, kapan bikin abstrak tim, kapan deadline proposal, dll. Dengan langkah tegap maju jalan, proposal tim gw submit beberapa hari sebelum deadline. Sambil harap-harap cemas, moga keterima. Karena kabarnya, tingkat kesulitannya lumayan tinggi. Setelah usaha, doa, tinggallah keyakinan. Gw selalu positive thinking bahwa proposal ini akan lolos seleksi dan tim kami akan presentasi di Amerika.

Total kurang lebih 6 bulan dari persiapan (ngumpulin orang-orang) sampai pengumuman hasil. Daaaaaaaaan KAMI LOLOS!! Yay~~~ Wah happy banget! Luar biasa rasanya. Tapi tunggu! Jangan terbawa suasana dulu. Masih ada tahap apply visa yang harus dilalui. Ini yang bikin deg-degan parah lahir batin jiwa raga!!

Gw mau cerita sedikit soal kekonyolan gw waktu bikin visa Amerika. Waktu itu tanggal 22 Desember 2017, gw bikin janji wawancara di kedutaan. Well, tahapan isi form aplikasi visa dan pembayaran di CIMB gw skip yaa.. Karena udah banyak banget blog yang bahas.

Naaah… Kalau diingat-ingat, waktu itu gw mixed feeling antara kaget, seneng, dan sedih. Wkwkwk. JSetelah rempong sana sini ngurus kelengkapan visa Amerika, gw pun bikin janji temu hari ini jam 7 pagi. Dari semalam udah ga bisa tidur karena grogi campur deg2an. Ini sih efek baca-baca blog tentang sulitnya mendapatkan visa Amerika.

Tepat jam 6.30 gw udah sampe di Kedutaan. Langsung disuruh masuk ke dalam untuk dicek berkas. Pas sampe ruang tunggu, gw dapat urutan no 33. Wah lumayan juga nunggunya. Tibalah saat yang paling menegangkan bagi semua orang, yaitu ketika masuk ke ruangan untuk sesi interview dengan pejabat konsulat yang semuanya orang Amerika. Sambil nunggu, kita bisa nyimak pertanyaan dan jawaban dari orang-orang yang diinterview. Ada yang diinterview pake bahasa Inggris ada juga yang pakai bahasa Indonesia. Kelihatan sih ada yang grogi, ada yang excited, dan ada yang santai. Yang visanya lolos relatif yang lebih rileks saat diinterview dan tujuannya jelas.

Tibalah giliran gw yang dipanggil. Jreng jreng… Mbak yang interview ngeliet paspor gw. Kebetulan gw apply pakai paspor dinas aka paspor biru.

Percakapannya seinget gw begini:

Mbak: Apa tujuan ibu pergi ke Amerika?
Gw: Menghadiri konferensi Association for Asian Studies di Washington DC
Mbak: Boleh saya lihat undangan?
Gw: Silahkan *sambil nyodorin*
Mbak: Ibu pergi mewakili Indonesia atau nama sendiri?
Gw: Mewakili Indonesia
Mbak: Aduh ibu seharusnya pakai visa dinas. Tidak perlu wawancara dan tidak perlu bayar… Gratis. Karena ibu pakai paspor dinas.
Gw: *kaget* Oh gitu ya. *Padahal dalam hati: apaaahh?? Gratisss?? Oooh dua jutakuuu… huhuhu*
Mbak: Iya ibu. Kalau pakai visa dinas, ibu tidak boleh jalan-jalan sama keluarga atau ke Disneyland. Kalau pakai visa di paspor biasa, ibu bisa jalan-jalan.
Gw: *Ngangguk2*
Mbak: Ibu ada paspor biasa?
Gw: Ada
Mbak: Baiklah. Saya buatkan surat dari sini untuk mengurus visa dinas ya. Ibu minta diuruskan oleh kantor saja, tidak perlu urus sendiri. Bisa kirim lewat kurir, tidak perlu datang lagi.
Gw: Makasih ya
Mbak: Ibu ini suratnya. Karena ibu adalah perwakilan negara Indonesia, pakai visa dinas ya. Nanti kirim juga paspor biasa ibu. Kami akan issued 2 visa. Satu di paspor dinas, satu lagi di paspor biasa. Ini saya kembalikan dokumen dan paspor dinasnya. Terima kasih.
Gw: Baik, terima kasih ya…

Trus langsung nelpon kantor dan nanya tentang visa dinas ini. Terjadilah kehebohan dan gw diketawain. “Aduuuh gimana sih mbak.. Terlalu inisiatif. Sayang duidnya udah keluar. Padahal mah buat kita gratis. Wkwkwk”. Lalu berkas-berkas itu pun gw serahkan ke kantor.

Well, tampaknya tentang ini harus gw tulis di blog. Sebab selama proses pengurusan visa, gw baca banyaaaaaak banget blog tentang pengalaman masing-masing orang. Sayangnya ga nemu blog yang membahas visa Amerika untuk paspor dinas/biru. Ini pun menjadi pembelajaran yang berharga.

Hikmah yang membahagiakan hari ini adalah ekspektasi bikin 1 visa, malah mau dikasih 2. Rejeki rejeki… Dan satu lagi, kalau pakai paspor dinas tuh jangan urus sendiri. Serahkan saja sama ahlinya. Hehehe.

Sooo~~ what to do wahai pemilik paspor biru atau dinas yang mau apply visa Amerika? Yang pertama adalah lapor sama bos kalo lo mau ke Amerika dan minta dibuatkan surat pengantar ke divisi yang ngurusin perihal perjalanan dinas. Kalo di tempat gw namanya Biro Umum. Apa aja ceklisnya:

  1. Surat Pengantar dari Atasan (bahasa Indonesia, kop instansi, ttd cap basah)
  2. Letter of Invitation dari pengundang
  3. Jadwal kegiatan konferensi (yang ada nama kita kapan akan presentasi)
  4. Form daftar riwayat hidup (bahasa Indonesia)
  5. Short cv (2-3 halaman aja, berbahasa Inggris)
  6. Fotokopi KTP
  7. Paspor biru
  8. Bukti bayar visa Amerika
  9. Rancangan Anggaran Belanja (RAB). Ini tuh kayak rincian dana yang akan dipakai selama di sana. Isinya seperti berapa biaya tiket, hotel, makan, transportasi.
  10. Copy Aplikasi form DS 160 (jangan lupa sesuaikan jenis visanya. Kalau gw pakai visa A2 untuk konferensi). Sebenarnya ini ga diminta sih, tapi buat jaga-jaga, serahkan aja deh. Kalo gak kepake bakal dibalikin kok.

Kira-kira 4-5 hari, visa dinas gw issued! Yay~ Gak hanya itu, visa B1/2 di paspor hijau pun keluar juga! Wah rejeki banget. 2 paspor, 2 visa issued.

Oke, masalah visa kelar. Saatnya packing dan persiapan lahir batin menempuh perjalanan 25 jam! Hihihi

Ntar gw update tentang perjalanan selama di Washington DC yesss~~ ❤

 

Jakarta, 10 Maret 2018

Chibi Ranran

 

S3 di Dalam atau Luar Negeri?

2 Nov

Yeah.. berbulan-bulan ini gw dihantui sama berbagai pertimbangan tentang baiknya lanjut sekolah ke mana. Tentu sebagai orang yang S1 dan S2-nya di dalam negeri, niatan untuk S3 di luar negeri itu amat sangat besar.
Selain mendapat pengalaman dan suasana baru, akses jurnal dan buku jauh lebih besar daripada kuliah di dalam negeri. Kesempatan untuk belajar di bawah bimbingan profesor kelas dunia pun menjadi daya tarik tersendiri. Namun, posisi gw sekarang sudah tidak single lagi. Ada faktor suami yang harus menjadi salah satu bahan pertimbangan. 

Sebelum menikah, gw pun sudah membicarakan ini sama dia. “Kalau aku melanjutkan S3 di luar negeri, kamu mau ikut ngga?” Bahkan pertanyaan ini adalah yang pertama gw ajukan sebelum menjawab pinangannya. Tanpa pikir panjang, dia menjawab “Ikut” diiringi senyum yang mengembang. 
Gw pun balik berusaha mempertegas, “Meskipun kamu meninggalkan karir di Indonesia menuju sesuatu yang belum pasti di sana? Dan belum tentu juga kamu bisa mulus dapat pekerjaan setelah balik ke Indonesia. 4 tahun itu bukan waktu yang sebentar”. Dan suami gw kala itu menjawab, “Gak apa-apa. Meskipun meninggalkan karir, aku mau nemenin kamu sekolah”.

Setelah satu tahun lebih menikah ketika gw bertanya hal ini lagi, jawaban dia masih sama. Dengan senyum mengembang dia bahkan menjawab “Aku lebih senang kamu lanjut sekolah di luar negeri…”
Satu hal, gw sangat bersyukur mendapatkan pasangan yang sangat support impian istrinya. Boleh dibilang, dia itu lucky charm gw. Sejak menikah, dia adalah supporter nomor 1. Rela tidur di ruang tv demi nemenin gw begadang ngerjain paper sampai pagi. Dia juga selalu merestui keberangkatan gw pergi konferensi baik di dalam maupun luar negeri. Tak sekalipun ada kata larangan untuk pergi dan berkarya. Bahkan saat gw penelitian lapangan di kota sebelah, dia rela menembus 9 jam kemacetan hanya untuk bertemu gw kurang dari 10 jam. What can I say, I am the luckiest!

Oleh karena kebaikan hati dan ketulusan cintanya itu, gw jadi tidak tega merusak karir yang sudah dibangun selama ini. Tidak rela melihat dignity-nya sebagai laki-laki dianggap koyak oleh society karena menanggalkan semua statusnya menuju tahun-tahun panjang sebagai bapak rumah tangga. Gw pun tidak kuasa membayangkan dirinya bekerja di sektor kerah biru saat menemani gw sekolah. Kembali lagi, 4 tahun bukan sebentar, Jendral! 
Gw pun sejatinya tidak ingin berdiri di puncak Everest seorang diri. Standar kesuksesan bagi gw sudah berubah. Tak lagi all about me, tapi all about us. Tak mengapa berdiri di puncak yang tidak setinggi Everest, namun bisa bersama dengan yang dicinta. Sebab walau bagaimanapun, family comes first! Waktu gw sakit dan dirawat di RS, apakah pekerjaan, almamater, dan kesuksesan datang membesuk? Ooh tidak sama sekali. Tak satu pun hadir dan menunjukkan kepalanya. Selama itu, gw hanya di kelilingi oleh keluarga dan teman. 
Bahkan ketika gw meyakinkan agar suami berangkat ke kantor saja karena di RS ada banyak perawat yang bisa diandalkan, suami gw memilih cuti karena baginya percuma berada di kantor jika pikirannya hanya tertuju untuk istrinya yang sedang sakit. 
Dari situ gw bisa merasakan betapa tulus dan dalam kasihnya kepada gw. Buat gw adalah wajar jika keluarga yang notabene adalah sedarah bisa memiliki cinta semacam itu. Namun akan jadi luar biasa ketika kita menyadari bahwa pasangan itu menjadi keluarga karena dibuat, made by design, gak sedarah. Jika seseorang dengan tulus mampu melepaskan egonya demi yang dicinta, dari situ lah ikatan yang sesungguhnya terjadi. Stick together for better or worse. Kita emang gak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan, tapi kita bisa memilih dengan siapa akan menghabiskan hidup bersama. Ternyata gw gak salah pilih. Dengan pertimbangan itu, gw pun menjadikan suami sebagai salah satu faktor penentu jalan hidup. Restunya adalah berkah buat gw, pun sebaliknya. 
Oke oke, sekarang balik ke laptop. Seperti biasa, gw tipe yang suka bikin list plus minus kalau sedang bingung menentukan pilihan. Jika plusnya lebih banyak, gw akan mengikut itu. Jika hasilnya seri atau gw masih galau, keputusan itu gw kembalikan ke Yang Maha Kuasa. Istikhoroh adalah koentji! 
Baiklah sekarang gw akan bikin list plus minus S3 di dalam dan luar negeri ala gw dengan spec: sudah menikah, belum punya anak, dan lagi nyicil KPR.

Plus minus S3 di dalam negeri:

Plus

1. Seatap dengan suami, gak LDR

2. Bisa sering ngumpul sama orangtua. Apalagi orangtua umurnya udah di atas 60an. Sedih juga kalo ditinggal sekolah… Nanti kangen huhu

3. Bisa sambil program hamil, lumayan waktu jadi lowong karena bisa sambil kuliah sambil kontrol ke dokter. Hohoho

4. Pengalaman sebagai fulltime ibu rumah tangga

5. Bisa belanja furniture, bikin desain interior rumah dan taman. Kalau kuliah di luar, terpaksa furniture rumah apa adanya dulu. Sayang kalau dikontrakkan nanti barang-barang pada rusak ga kerawat huhu

6. Bisa sering-sering konferensi ke luar negeri 

7. Disertasi pakai bahasa Indonesia 

Minus

1. Gak dapat pengalaman sekolah di luar negeri

2. Gak ada kesempatan full day berbahasa asing, baik itu berbicara, berpikir, dan menulis

3. Gak bisa mengembangkan jejaring alumni yang lebih internasional. Padahal ke depannya penting banget nih!

4. Terbatas akses buku dan jurnal internasional gratis

5. Ambience-nya kurang mendukung belajar. Bisa-bisa bawaannya mager karena “hanya” di rumah 

6. Kuliah di dalam negeri masih dianggap kurang prestisius. Apalagi ketika teman-teman lo pada lanjut di luar negeri. Duh peer pressure ini mah hehehe

Plus minus S3 di Luar Negeri:

Plus

1. Iklim akademik sangat menunjang karena ada feel udah jauh-jauh sekolah ke luar jadi harus semangaaaat

2. Akses buku dan jurnal internasional gratis melimpah ruah

3. Bisa dibimbing sama profesor kelas dunia

4. Punya teman kuliah dari berbagai negara, berarti link makin besar dan akan dapat update macam-macam ilmu yang belum kita dengar sebelumnya

5. Yah walau bagaimana pun lulusan luar masih dianggap lebih prestisius daripada dalam negeri. Intinya mah CV jadi kece dan banyak yang respek sama kita hehe

6. Dapat exposure kegiatan ilmiah yang lebih besar, semarak, dan beragam

7. Suami bisa les bahasa asing dan ambil sertifikasi pangan. Sambil menyelam minum air

Minus

1. Karir suami jadi taruhan. Tidak ada kepastian suami bisa dapat pekerjaan yang layak setelah balik ke Indonesia

2. Jauh dari orangtua. Kalau ada apa-apa, agak repot jadinya. Sebab gw pergi pakai paspor biru, jadi kalau mau keluar negeri harus ada izin permit dari Kedubes 

3. Kalo dengar cerita dari teman-teman yang lagi PhD di luar, tugas dan bahan bacaannya nampoooooooool!! Banyak yang ga mampu mengendalikan esmosi karena setres. Takut suami kena imbas wkwkwkwk

4. Yah namanya juga kuliah di luar yang literally lebih maju, tak jarang banyak yang terseok-seok karena secara teori jauh tertinggal dari rekan-rekan seangkatan. 

5. Tak dapat dipungkiri, kendala bahasa. Apalagi kita dari negara yang bukan berbahasa Inggris, pasti kesulitan membaca literatur yang bahasa Inggrisnya rada sophisticated

6. Nasib promil gw gimana dooong… huhuhu. Kalo KPR mah Insya Allah gw yakin bisa nutup. Hehehe

Sementara baru itu yang kepikiran. Lhaaaaaaaaa kok seimbang?? Huhuhu. 
Aduh mak ini saya butuh bantuan ladies and guys untuk komen dan kasi second opinion, plisssssssssss. Sambil gw istikhoroh juga. Moga-moga dapat petunjuk dari Allah. Aamin.

Makasi gaes!

Jakarta, 1 November 2017 (Pk.23.00)

Chibi Ranran

Perjalanan Hidup

13 Agu

Bagaimana jika akhirnya gw memutuskan untuk mengambil program doktoral di Indonesia saja? Bukan di luar negeri seperti yang sudah gw rencanakan. 
Family comes first.
Sebelum menikah, gw bertanya ke suami gw bagaimana jika gw sekolah ke luar negeri. Apa yang akan dilakukan?. Dengan cepat ia menjawab akan ikut menemani meskipun ia harus menjadi suami rumah tangga dan melepaskan pekerjaannya. 
Dalam hati gw berpikir, akhirnya gw menemukan orang yang selama ini gw cari.
Lalu, setelah menikah gw pun mendorong suami untuk lanjut kuliah. Dengan pemikiran karena gw akan S3, maka gw berharap dia bisa lanjut S2 dulu seperti yang ia impikan. 
Ia kemudian melanjutkan kuliah di almamaternya dulu. Dengan jurusan yang sama agar  tetap linier. Mana tau nanti bisa nyambi jadi dosen. Meskipun akhirnya, effortnya harus berkali lipat karena tiap Jumat dan Sabtu harus bolak balik Jakarta Bogor.
Sambil menanti dia selesai kuliah, gw ikut konferensi sana sini baik di dalam maupun luar negeri. Bagus untuk memperkuat CV, menambah ilmu, dan network di kalangan akademisi. 
Suami gw adalah orang yang mengingatkan gw untuk belajar. “Yaang, kok kamu udah lama gak bikin jurnal lagi? Nulis lagi dong yaang…” begitu kata selalu.
Kalau ada konferensi, dimana pun tempatnya dan berapa lama pun durasinya, dia selalu mensupport gw untuk apply. “Apply aja dulu yaang.. kali-kali rejeki” katanya.
Kini, satu tahun sebelum dia lulus, gw mulai ancar-ancar untuk apply S3. Beberapa kali berkomunikasi dengan professor-professor untuk meminta saran tema dan universitas. 
Suami gw pun semangat dan bersiap untuk menemani gw kuliah. Bahkan, resignation dia dari kantor lama ke kantor baru, salah satu alasannya untuk nemenin gw kuliah. Pindah ke kantor baru yang multinational company dan memiliki cabang di negara-negara incaran studi gw. Dengan harapan, ada kemungkinan mutasi di negara tempat gw studi nanti. Agar ia tidak hanya menjadi suami rumah tangga. Agar ia tetap bisa berkarir sambil menemani gw kuliah.
Namun, mendadak gw berhenti sejenak. Tertegun dan berpikir ulang rencana studi di luar negeri itu. Segala plus minus gw pikirkan sambil konsultasi sana sini ke rekan-rekan yang telah menjalani itu semua. 
Merefleksikan pengalaman senior yang S3 di luar negeri. Ada yang bawa keluarga (suami dan anak), ada yang hanya bawa suami atau anak, ada yang sendirian dan meninggalkan keluarganya di tanah air. Masing-masing memiliki cerita, usaha, dan upaya yang tidak sedikit. 
Beruntunglah bagi yang pergi bersama keluarga karena ada support system selama studi di luar negeri. Namun, karir suami menjadi imbas besar karena meninggalkan semua yang sudah dibangun sejak lama. 
Bagi yang berangkat sendirian, riak rindu kerap membuncah dalam hati. Hari-hari sepi dilalui sambil tetap berjibaku menghadapi supervisor, buku bacaan wajib, tugas, dan sebagainya. 
Lalu, dimanakah posisi gw akan berada?
Kemudian, gw akhirnya memahami sudut pandang rekan-rekan yang sangat mumpuni dalam keilmuannya namun memutuskan untuk tetap studi di dalam negeri. Melepaskan kesempatan belajar di tempat baru yang asing dan jauh dari rumah. Semua itu untuk satu hal, keluarga. 
You never know how it feels until you go through it.
Bapak gw selalu mencontohkan bahwa keluarga adalah yang paling utama. Beberapa kali ia melepas kesempatan studi di luar negeri karena tak tega meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Beberapa kali pula ia melepaskan promosi jabatan karena tempat baru itu berada jauh dari rumah. Memang, istri dan anak bisa turut diboyong ke sana. Namun, egonya mengalahkan kasih kepada istri dan anak-anaknya. Sebab ia tahu bahwa sang istri adalah perempuan yang mencintai pekerjaannya. Dan ia tahu, anak-anaknya tidak bersemangat terhadap proses adaptasi di lingkungan baru. Jika ia memaksa untuk pergi, apakah keluarganya akan bahagia?
Akhirnya, bapak gw memilih tetap tinggal di sini bersama keluarganya. Sampai saat ini, apakah ia menyesal? Ternyata tidak. Sebab baginya, yang membuatnya bahagia adalah keluarga yang harmonis, bukan jabatan dan gelar pendidikan.
Suatu ketika, gw pun bertanya ke suami. Bagaimana jika gw melanjutkan pendidikan di dalam negeri, bukan di luar negeri seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Dengan tersenyum suami gw menjawab, “dimana pun itu, yang penting kamu bahagia.”
Bahagia.
Tiba-tiba saja gw menyadari sesuatu. Tampaknya gw berubah. Jika dulu bersekolah di luar negeri adalah life goal dan sesuatu yang paling gw impikan, ternyata kini tidak lagi. Yang paling berharga buat gw adalah keluarga. 
Family comes first.

Jakarta, 13 Agustus 2017 (3.39 pm)

Chibi Ranran

Perjuangan Mencari Rumah (Part 1)

22 Jul

Well, gw memutuskan untuk menulis ini karena ingin berbagi pengalaman soal (susahnya) mencari rumah. Sebelum nikah, gw selalu bertekad kalau hanya tinggal di apartemen selama satu tahun. Setelah itu gw akan beli rumah. Keyakinan itu selalu gw tanam kuat-kuat dalam hati sambil sesekali sesumbar. Sesumbar bukan untuk pamer atau congkak, tapi ketahuilah.. itu akan membuat impian kita tercapai. Sebab, ada orang-orang yang turut mendoakan. Serta setiap ucapan kita, mana tau ada malaikat lewat lalu didoakan. Aamin..Benar saja, 9 bulan setelah nikah gw mulai gerilya habis-habisan mencari rumah. Hampir setiap minggu gw survei sana sini. Kebanyakan ditemenin bokap, yeah my partner in crime! Hoho. Kadang-kadang ditemani suamik karena Jumat Sabtu dia sibuk kuliah.

Saran gw, sebelum membeli rumah tentukan dulu mau lokasi dimana. Gw prefer rumah yang dekat dengan orangtua. Apalagi kebetulan rumah mertua gak jauh dari rumah orangtua gw. Jadi ya pas banget. Trus syarat mutlak lainnya adalah harus dekat akses angkot karena gw anaknya suka ngangkot wkwkwk. Kalau dekat akses angkot juga memudahkan ngasih ancer-ancer untuk orang yang mau k rumah kita. Patokan jelas dan Insya Allah kemungkinan nyasarnya kecil. Trus syarat lainnya adalah ada minimarket, warteg (yess gw anaknya doyan makan warteg hahaha), dan mesjid. Biar barokah boo.. dengerin adzan tiap hari. Plus kalo mau tarawih juga jadi gampang. Lalu ada halaman belakang buat jemur. Ya kali jemur baju di depan rumah, segala underware visa berkibar-kibar dilihat tetangga. Wkwkwk. Banyak ya syaratnya? Gak apa, namanya juga harapan. Kan berharap setinggi-tingginya, biar kalau ga kesampaian tetep berada di atas standar. Hohoho

Syarat tambahan yang sifatnya mubah alis kalau ada syukur, kalo ngga ya gak apa-apa adalah bisa parkir 2 mobil. Yah mana tau Allah kasih rejeki dan bisa beli mobil lagi. Aamin. Selain itu, kalau ada tamu juga bisa numpang parkir dan ga nyusahin tetangga karena jalanan rapet. Dan satu lagi, lokasi ga lebih dari 20 kilo dari kantor. Jangan sampe tua di jalan kelamaan. Hikss. Kemudian dimulailah gerilya di daerah radius maksimal 5 kilo dari rumah orangtua dan 20 kilo dari kantor.

Rumah pertama yang gw survei, langsung jatuh cintrong! Karena semua syarat terpenuhi. Saat itu gw agak congkak karena merasa mencari rumah itu gampang, ga sesulit yang dibilang orang. Yah balik lagi sih jadi manusia jangan congkak yah cinttt… akhirnya gw pun kualat! Wkwkwk.

Setelah ngasih booking fee Rp5juta (lagi promo, biasanya 10juta), muncullah kekhawatiran alias worst case scenario. Sebab di rumah ini indent alias bukan ready stock. Skema awal gw adalah cash keras atau bayar selama beberapa kali (biasanya 3 kali) dalam periode tertentu.

Trus kakak gw worried karena kebanyakan developer pada mangkir kalo indent begini. Apalagi kalau udah lunas pembayarannya. Ga ada janji yang bisa dipegang. Kadang ga adil juga sih.. kalo customer yang telat bayar, biaya hangus. Kalo developer yang telat bangun, pinaltinya apa? Nah lho!

Setelah bokap gw konsul sama saudara yang kerjaannya notaris, akhirnya memilih untuk cari rumah ready stock. Masa mau beli sesuatu tapi barangnya belum ada? Lagipula, salah satu indikator developer bonafide adalah yang mampu nyiapin rumah ready stock. Means modalnya banyak.

Rumah juga perlu disurvei yang secara fisik udah siap. Biar bisa resapi rasanya tinggal di situ. Nyaman atau ngga, betah atau ngga. Pembagian ruangannya suka atau ngga. Feelnya dapet atau ngga. Ada penghuninya atau ngga… Hihihi.

Akhirnya bokap gw pun ngajuin skema pembayaran seperti ini: cash keras 3 kali, pembayaran pertama untuk tanda jadi, pembayaran kedua setelah atap naik, dan pembayaran ketiga saat serah terima kunci. Lumayan win win solution kan. Sama-sama aman. Tapi, emang belum jodoh kali ya.. Setelah deramak yang lumayan ngeselin karena si sales yang gampang baper, akhirnya batal lah gw beli dream house ituh! Gak ngerti gimana ceritanya, terakhir baru tau kalau developernya oke dengan skema yang gw ajukan, tapi si sales kurang informatif. Malahan mutung (ngambek) sampai-sampai ga mau balas wa dan angkat telepon. Ajaib kan? Hahaha. Ya sudahlah, kemudian dimulai lagi babak pencarian rumah. Hohoho

Hampir tiap hari kerjaannya ngubek-ngubek website penyedia layanan jual beli rumah. Subscribed email biar dapat notifikasi. Sebab, cari rumah itu ibarat siapa cepat dia dapat! Pernah suatu ketika nemu iklan rumah yang lokasi oke dan harga juga di bawah pasaran. Pas ngontak salesnya ternyata udah sold out. Padahal baru bulan lalu diiklankan. Luar biasa kan? Jadi ya sempatkan cek notifikasi kalau-kalau ada iklan baru yang sesuai spec yang diinginkan.

Selain itu, gw juga kontak sales-sales dan minta di wa kalau ada info rumah yang oke. Jangan lupa kasih tau segala persyaratan seperti yang gw sebut di atas tadi. Biar para sales bisa sortir dan ngasi info sesuai kebutuhan.

Jangan patah semangat kalau belum dapat yang cocok di hati. Jangan gegabah juga dalam memutuskan memilih rumah. Perhatikan lingkungan sekitar, resapan air dimana, banjir atau ngga, apakah area itu dulunya tanah urukan atau tanah keras. Hati-hati kalau beli rumah di tanah bekas tanah urukan. Soalnya bangunan rumah bisa cepat retak karena pondasi bawahnya kurang solid.

Terakhir, banyak-banyak berdoa! Sebab, ini perkara rejeki dan jodoh. Minta dipertemukan dengan rumah yang terbaik menurut Allah, dimudahkan segala upaya, dan rumah yang barokah. Segala sesuatu itu memang perlu diperjuangkan.

Begitulah kira-kira. Insya Allah akan gw update lagi proses pencarian rumah di part berikutnya. Hoho. Intinya mah semangat!!

Jakarta, 22 Juli 2017
Chibi Ranran

My Life as a Researcher: BFF 

6 Jul

Tiga sahabat saya ini Insya Allah akan melanjutkan studi S2 tahun ini. Yang satu ke Inggris, yang satu ke Jerman, dan satu lagi ke US. Bangga adalah perasaan yang saya rasakan untuk mereka. Kami berempat bertemu pertama kali tahun 2015 ketika sama-sama menjadi peneliti baru di kantor. Sejak itu, mereka adalah lingkaran terdalam saya di lingkungan para ilmuan muda. 
Saat masih unyu dulu, kami sering berandai-andai melanjutkan sekolah dan ikut konferensi di luar negeri. Sering membicarakan mimpi-mimpi dan sesumbar tentang apa yang akan dilakukan sebenarnya salah satu cara kami untuk menarik perhatian semesta. Demi sebuah teori mestakung atau semesta mendukung. Impian akan menghampiri saat seseorang mau bangun dan bekerja keras meraihnya. Saya tahu sekali perjuangan seperti apa yang mereka lakukan demi meraih semuanya. Tidak ada yang namanya kebetulan, semua adalah hasil usaha, doa, dukungan keluarga dan teman-teman. 
Sukses kalian adalah bahagia saya. Selamat belajar di negeri seberang. “Ditinggal” oleh ketiga sahabat tentu menjadi cambuk bagi saya untuk kembali fokus pada proses menggapai cita-cita tertinggi dalam jenjang akademik. Persiapan adalah hal penting. Namun yang utama adalah berani apply. Tidak ada orang yang akan diterima jika tidak melakukan peng-apply-an! Selamat meng-apply, chib! Insya Allah semesta mendukungmu! Aamin.
Jakarta, 6 Juli 2017

Chibi Ranran