Mental Panci-Teflon-Anti-Gores

29 Jun

http://birokreasi.com/2016/06/mengenal-kaum-miskin-urban-anak-anak-muda-yang-kere-kelaparan-tapi-eksis/

Artikel yang super sekali…

Tergelitik dengan salah satu kalimat dalam artikel —> “Ada juga seorang ayah yang tidak pernah liburan selama 13 tahun hanya agar bisa membiayai pendidikan anaknya di luar negeri.”

Gak usah jauh-jauh, ayah saya (sepertinya) berhenti berlibur sejak menikah dan memiliki anak. Semua atas nama tanggung jawab. Dia juga orang yang paling sering mengorbankan kepentingannya untuk membeli sesuatu yang ia suka demi biaya sekolah dan les ini itu anak2nya.

Hidup sebagai anak PNS, dari kecil sudah terbiasa menjadi ‘outsider’ dari kemewahan yang dirasakan teman-teman atau kenalan-kenalan lain. Awalnya pahit, bayangkan, waktu pindah ke Jakarta kelas 3 SD saya kerap diejek karena membawa bekal setiap hari. Bukan karena tidak mau jajan sembarangan, tapi karena memang tidak ada uang saku untuk dihabiskan. Ayah dan ibu nampaknya paham, kemudian selalu ‘menyemangati’ dengan senyum bahagia sembari menyiapkan bekal. “Anak yang bawa bekal itu kereeeeen!! Berarti orangtuanya peduli sama anaknya. Sehat juga karena gak makanan jajajan yang dikerumuni lalat… Bla bla”. Sampai akhirnya saya percaya, kalau anak yang bawa bekal itu keren. Dan sampai kini pun masih bawa bekal kalau ke kantor. Alasannya yaa masih sama, hemat dan sehat! Wkwkwk.

Memang perlu mental panci-teflon-anti-gores untuk bertahan dari masa remaja dan ‘society’ yang keras itu. Saya mah gak apa2 gak dianggap keren, yang penting saya gak punya utang. Gak apa-apa punya mobil bukan yang merk mewah tiada tara, yang penting belinya ngga kreditan. Gak apa-apa masih suka ngangkot kemana-mana, yang penting tabungannya gendut dan bisa liburan tanpa perlu menghemat salah satu pos. Lha wong dari lahir hidup sudah hemat. Hidup di masyarakat yang penuh tekanan ini, kuncinya cuma satu, tutup kuping-pasang kacamata kuda-senyum.

Bermewah-mewah sambil menyenangkan diri sendiri sekali-kali boleh lah, asal tidak menjadi keharusan di atas segalanya, kemudian terjebak dalam filosofi “biar mau dikata… eksis!”

Ya begitulah. ^^

 

Jakarta, 29 Juni 2016 (11.53 am)

Chibi Ranran

Iklan
%d blogger menyukai ini: