Perjuangan Mencari Rumah (Part 1)

22 Jul

Well, gw memutuskan untuk menulis ini karena ingin berbagi pengalaman soal (susahnya) mencari rumah. Sebelum nikah, gw selalu bertekad kalau hanya tinggal di apartemen selama satu tahun. Setelah itu gw akan beli rumah. Keyakinan itu selalu gw tanam kuat-kuat dalam hati sambil sesekali sesumbar. Sesumbar bukan untuk pamer atau congkak, tapi ketahuilah.. itu akan membuat impian kita tercapai. Sebab, ada orang-orang yang turut mendoakan. Serta setiap ucapan kita, mana tau ada malaikat lewat lalu didoakan. Aamin..Benar saja, 9 bulan setelah nikah gw mulai gerilya habis-habisan mencari rumah. Hampir setiap minggu gw survei sana sini. Kebanyakan ditemenin bokap, yeah my partner in crime! Hoho. Kadang-kadang ditemani suamik karena Jumat Sabtu dia sibuk kuliah.

Saran gw, sebelum membeli rumah tentukan dulu mau lokasi dimana. Gw prefer rumah yang dekat dengan orangtua. Apalagi kebetulan rumah mertua gak jauh dari rumah orangtua gw. Jadi ya pas banget. Trus syarat mutlak lainnya adalah harus dekat akses angkot karena gw anaknya suka ngangkot wkwkwk. Kalau dekat akses angkot juga memudahkan ngasih ancer-ancer untuk orang yang mau k rumah kita. Patokan jelas dan Insya Allah kemungkinan nyasarnya kecil. Trus syarat lainnya adalah ada minimarket, warteg (yess gw anaknya doyan makan warteg hahaha), dan mesjid. Biar barokah boo.. dengerin adzan tiap hari. Plus kalo mau tarawih juga jadi gampang. Lalu ada halaman belakang buat jemur. Ya kali jemur baju di depan rumah, segala underware visa berkibar-kibar dilihat tetangga. Wkwkwk. Banyak ya syaratnya? Gak apa, namanya juga harapan. Kan berharap setinggi-tingginya, biar kalau ga kesampaian tetep berada di atas standar. Hohoho

Syarat tambahan yang sifatnya mubah alis kalau ada syukur, kalo ngga ya gak apa-apa adalah bisa parkir 2 mobil. Yah mana tau Allah kasih rejeki dan bisa beli mobil lagi. Aamin. Selain itu, kalau ada tamu juga bisa numpang parkir dan ga nyusahin tetangga karena jalanan rapet. Dan satu lagi, lokasi ga lebih dari 20 kilo dari kantor. Jangan sampe tua di jalan kelamaan. Hikss. Kemudian dimulailah gerilya di daerah radius maksimal 5 kilo dari rumah orangtua dan 20 kilo dari kantor.

Rumah pertama yang gw survei, langsung jatuh cintrong! Karena semua syarat terpenuhi. Saat itu gw agak congkak karena merasa mencari rumah itu gampang, ga sesulit yang dibilang orang. Yah balik lagi sih jadi manusia jangan congkak yah cinttt… akhirnya gw pun kualat! Wkwkwk.

Setelah ngasih booking fee Rp5juta (lagi promo, biasanya 10juta), muncullah kekhawatiran alias worst case scenario. Sebab di rumah ini indent alias bukan ready stock. Skema awal gw adalah cash keras atau bayar selama beberapa kali (biasanya 3 kali) dalam periode tertentu.

Trus kakak gw worried karena kebanyakan developer pada mangkir kalo indent begini. Apalagi kalau udah lunas pembayarannya. Ga ada janji yang bisa dipegang. Kadang ga adil juga sih.. kalo customer yang telat bayar, biaya hangus. Kalo developer yang telat bangun, pinaltinya apa? Nah lho!

Setelah bokap gw konsul sama saudara yang kerjaannya notaris, akhirnya memilih untuk cari rumah ready stock. Masa mau beli sesuatu tapi barangnya belum ada? Lagipula, salah satu indikator developer bonafide adalah yang mampu nyiapin rumah ready stock. Means modalnya banyak.

Rumah juga perlu disurvei yang secara fisik udah siap. Biar bisa resapi rasanya tinggal di situ. Nyaman atau ngga, betah atau ngga. Pembagian ruangannya suka atau ngga. Feelnya dapet atau ngga. Ada penghuninya atau ngga… Hihihi.

Akhirnya bokap gw pun ngajuin skema pembayaran seperti ini: cash keras 3 kali, pembayaran pertama untuk tanda jadi, pembayaran kedua setelah atap naik, dan pembayaran ketiga saat serah terima kunci. Lumayan win win solution kan. Sama-sama aman. Tapi, emang belum jodoh kali ya.. Setelah deramak yang lumayan ngeselin karena si sales yang gampang baper, akhirnya batal lah gw beli dream house ituh! Gak ngerti gimana ceritanya, terakhir baru tau kalau developernya oke dengan skema yang gw ajukan, tapi si sales kurang informatif. Malahan mutung (ngambek) sampai-sampai ga mau balas wa dan angkat telepon. Ajaib kan? Hahaha. Ya sudahlah, kemudian dimulai lagi babak pencarian rumah. Hohoho

Hampir tiap hari kerjaannya ngubek-ngubek website penyedia layanan jual beli rumah. Subscribed email biar dapat notifikasi. Sebab, cari rumah itu ibarat siapa cepat dia dapat! Pernah suatu ketika nemu iklan rumah yang lokasi oke dan harga juga di bawah pasaran. Pas ngontak salesnya ternyata udah sold out. Padahal baru bulan lalu diiklankan. Luar biasa kan? Jadi ya sempatkan cek notifikasi kalau-kalau ada iklan baru yang sesuai spec yang diinginkan.

Selain itu, gw juga kontak sales-sales dan minta di wa kalau ada info rumah yang oke. Jangan lupa kasih tau segala persyaratan seperti yang gw sebut di atas tadi. Biar para sales bisa sortir dan ngasi info sesuai kebutuhan.

Jangan patah semangat kalau belum dapat yang cocok di hati. Jangan gegabah juga dalam memutuskan memilih rumah. Perhatikan lingkungan sekitar, resapan air dimana, banjir atau ngga, apakah area itu dulunya tanah urukan atau tanah keras. Hati-hati kalau beli rumah di tanah bekas tanah urukan. Soalnya bangunan rumah bisa cepat retak karena pondasi bawahnya kurang solid.

Terakhir, banyak-banyak berdoa! Sebab, ini perkara rejeki dan jodoh. Minta dipertemukan dengan rumah yang terbaik menurut Allah, dimudahkan segala upaya, dan rumah yang barokah. Segala sesuatu itu memang perlu diperjuangkan.

Begitulah kira-kira. Insya Allah akan gw update lagi proses pencarian rumah di part berikutnya. Hoho. Intinya mah semangat!!

Jakarta, 22 Juli 2017
Chibi Ranran

Iklan
%d blogger menyukai ini: