Perjalanan Hidup

13 Agu

Bagaimana jika akhirnya gw memutuskan untuk mengambil program doktoral di Indonesia saja? Bukan di luar negeri seperti yang sudah gw rencanakan. 
Family comes first.
Sebelum menikah, gw bertanya ke suami gw bagaimana jika gw sekolah ke luar negeri. Apa yang akan dilakukan?. Dengan cepat ia menjawab akan ikut menemani meskipun ia harus menjadi suami rumah tangga dan melepaskan pekerjaannya. 
Dalam hati gw berpikir, akhirnya gw menemukan orang yang selama ini gw cari.
Lalu, setelah menikah gw pun mendorong suami untuk lanjut kuliah. Dengan pemikiran karena gw akan S3, maka gw berharap dia bisa lanjut S2 dulu seperti yang ia impikan. 
Ia kemudian melanjutkan kuliah di almamaternya dulu. Dengan jurusan yang sama agar  tetap linier. Mana tau nanti bisa nyambi jadi dosen. Meskipun akhirnya, effortnya harus berkali lipat karena tiap Jumat dan Sabtu harus bolak balik Jakarta Bogor.
Sambil menanti dia selesai kuliah, gw ikut konferensi sana sini baik di dalam maupun luar negeri. Bagus untuk memperkuat CV, menambah ilmu, dan network di kalangan akademisi. 
Suami gw adalah orang yang mengingatkan gw untuk belajar. “Yaang, kok kamu udah lama gak bikin jurnal lagi? Nulis lagi dong yaang…” begitu kata selalu.
Kalau ada konferensi, dimana pun tempatnya dan berapa lama pun durasinya, dia selalu mensupport gw untuk apply. “Apply aja dulu yaang.. kali-kali rejeki” katanya.
Kini, satu tahun sebelum dia lulus, gw mulai ancar-ancar untuk apply S3. Beberapa kali berkomunikasi dengan professor-professor untuk meminta saran tema dan universitas. 
Suami gw pun semangat dan bersiap untuk menemani gw kuliah. Bahkan, resignation dia dari kantor lama ke kantor baru, salah satu alasannya untuk nemenin gw kuliah. Pindah ke kantor baru yang multinational company dan memiliki cabang di negara-negara incaran studi gw. Dengan harapan, ada kemungkinan mutasi di negara tempat gw studi nanti. Agar ia tidak hanya menjadi suami rumah tangga. Agar ia tetap bisa berkarir sambil menemani gw kuliah.
Namun, mendadak gw berhenti sejenak. Tertegun dan berpikir ulang rencana studi di luar negeri itu. Segala plus minus gw pikirkan sambil konsultasi sana sini ke rekan-rekan yang telah menjalani itu semua. 
Merefleksikan pengalaman senior yang S3 di luar negeri. Ada yang bawa keluarga (suami dan anak), ada yang hanya bawa suami atau anak, ada yang sendirian dan meninggalkan keluarganya di tanah air. Masing-masing memiliki cerita, usaha, dan upaya yang tidak sedikit. 
Beruntunglah bagi yang pergi bersama keluarga karena ada support system selama studi di luar negeri. Namun, karir suami menjadi imbas besar karena meninggalkan semua yang sudah dibangun sejak lama. 
Bagi yang berangkat sendirian, riak rindu kerap membuncah dalam hati. Hari-hari sepi dilalui sambil tetap berjibaku menghadapi supervisor, buku bacaan wajib, tugas, dan sebagainya. 
Lalu, dimanakah posisi gw akan berada?
Kemudian, gw akhirnya memahami sudut pandang rekan-rekan yang sangat mumpuni dalam keilmuannya namun memutuskan untuk tetap studi di dalam negeri. Melepaskan kesempatan belajar di tempat baru yang asing dan jauh dari rumah. Semua itu untuk satu hal, keluarga. 
You never know how it feels until you go through it.
Bapak gw selalu mencontohkan bahwa keluarga adalah yang paling utama. Beberapa kali ia melepas kesempatan studi di luar negeri karena tak tega meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Beberapa kali pula ia melepaskan promosi jabatan karena tempat baru itu berada jauh dari rumah. Memang, istri dan anak bisa turut diboyong ke sana. Namun, egonya mengalahkan kasih kepada istri dan anak-anaknya. Sebab ia tahu bahwa sang istri adalah perempuan yang mencintai pekerjaannya. Dan ia tahu, anak-anaknya tidak bersemangat terhadap proses adaptasi di lingkungan baru. Jika ia memaksa untuk pergi, apakah keluarganya akan bahagia?
Akhirnya, bapak gw memilih tetap tinggal di sini bersama keluarganya. Sampai saat ini, apakah ia menyesal? Ternyata tidak. Sebab baginya, yang membuatnya bahagia adalah keluarga yang harmonis, bukan jabatan dan gelar pendidikan.
Suatu ketika, gw pun bertanya ke suami. Bagaimana jika gw melanjutkan pendidikan di dalam negeri, bukan di luar negeri seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Dengan tersenyum suami gw menjawab, “dimana pun itu, yang penting kamu bahagia.”
Bahagia.
Tiba-tiba saja gw menyadari sesuatu. Tampaknya gw berubah. Jika dulu bersekolah di luar negeri adalah life goal dan sesuatu yang paling gw impikan, ternyata kini tidak lagi. Yang paling berharga buat gw adalah keluarga. 
Family comes first.

Jakarta, 13 Agustus 2017 (3.39 pm)

Chibi Ranran

Iklan
%d blogger menyukai ini: