S3 di Dalam atau Luar Negeri?

2 Nov

Yeah.. berbulan-bulan ini gw dihantui sama berbagai pertimbangan tentang baiknya lanjut sekolah ke mana. Tentu sebagai orang yang S1 dan S2-nya di dalam negeri, niatan untuk S3 di luar negeri itu amat sangat besar.
Selain mendapat pengalaman dan suasana baru, akses jurnal dan buku jauh lebih besar daripada kuliah di dalam negeri. Kesempatan untuk belajar di bawah bimbingan profesor kelas dunia pun menjadi daya tarik tersendiri. Namun, posisi gw sekarang sudah tidak single lagi. Ada faktor suami yang harus menjadi salah satu bahan pertimbangan. 

Sebelum menikah, gw pun sudah membicarakan ini sama dia. “Kalau aku melanjutkan S3 di luar negeri, kamu mau ikut ngga?” Bahkan pertanyaan ini adalah yang pertama gw ajukan sebelum menjawab pinangannya. Tanpa pikir panjang, dia menjawab “Ikut” diiringi senyum yang mengembang. 
Gw pun balik berusaha mempertegas, “Meskipun kamu meninggalkan karir di Indonesia menuju sesuatu yang belum pasti di sana? Dan belum tentu juga kamu bisa mulus dapat pekerjaan setelah balik ke Indonesia. 4 tahun itu bukan waktu yang sebentar”. Dan suami gw kala itu menjawab, “Gak apa-apa. Meskipun meninggalkan karir, aku mau nemenin kamu sekolah”.

Setelah satu tahun lebih menikah ketika gw bertanya hal ini lagi, jawaban dia masih sama. Dengan senyum mengembang dia bahkan menjawab “Aku lebih senang kamu lanjut sekolah di luar negeri…”
Satu hal, gw sangat bersyukur mendapatkan pasangan yang sangat support impian istrinya. Boleh dibilang, dia itu lucky charm gw. Sejak menikah, dia adalah supporter nomor 1. Rela tidur di ruang tv demi nemenin gw begadang ngerjain paper sampai pagi. Dia juga selalu merestui keberangkatan gw pergi konferensi baik di dalam maupun luar negeri. Tak sekalipun ada kata larangan untuk pergi dan berkarya. Bahkan saat gw penelitian lapangan di kota sebelah, dia rela menembus 9 jam kemacetan hanya untuk bertemu gw kurang dari 10 jam. What can I say, I am the luckiest!

Oleh karena kebaikan hati dan ketulusan cintanya itu, gw jadi tidak tega merusak karir yang sudah dibangun selama ini. Tidak rela melihat dignity-nya sebagai laki-laki dianggap koyak oleh society karena menanggalkan semua statusnya menuju tahun-tahun panjang sebagai bapak rumah tangga. Gw pun tidak kuasa membayangkan dirinya bekerja di sektor kerah biru saat menemani gw sekolah. Kembali lagi, 4 tahun bukan sebentar, Jendral! 
Gw pun sejatinya tidak ingin berdiri di puncak Everest seorang diri. Standar kesuksesan bagi gw sudah berubah. Tak lagi all about me, tapi all about us. Tak mengapa berdiri di puncak yang tidak setinggi Everest, namun bisa bersama dengan yang dicinta. Sebab walau bagaimanapun, family comes first! Waktu gw sakit dan dirawat di RS, apakah pekerjaan, almamater, dan kesuksesan datang membesuk? Ooh tidak sama sekali. Tak satu pun hadir dan menunjukkan kepalanya. Selama itu, gw hanya di kelilingi oleh keluarga dan teman. 
Bahkan ketika gw meyakinkan agar suami berangkat ke kantor saja karena di RS ada banyak perawat yang bisa diandalkan, suami gw memilih cuti karena baginya percuma berada di kantor jika pikirannya hanya tertuju untuk istrinya yang sedang sakit. 
Dari situ gw bisa merasakan betapa tulus dan dalam kasihnya kepada gw. Buat gw adalah wajar jika keluarga yang notabene adalah sedarah bisa memiliki cinta semacam itu. Namun akan jadi luar biasa ketika kita menyadari bahwa pasangan itu menjadi keluarga karena dibuat, made by design, gak sedarah. Jika seseorang dengan tulus mampu melepaskan egonya demi yang dicinta, dari situ lah ikatan yang sesungguhnya terjadi. Stick together for better or worse. Kita emang gak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan, tapi kita bisa memilih dengan siapa akan menghabiskan hidup bersama. Ternyata gw gak salah pilih. Dengan pertimbangan itu, gw pun menjadikan suami sebagai salah satu faktor penentu jalan hidup. Restunya adalah berkah buat gw, pun sebaliknya. 
Oke oke, sekarang balik ke laptop. Seperti biasa, gw tipe yang suka bikin list plus minus kalau sedang bingung menentukan pilihan. Jika plusnya lebih banyak, gw akan mengikut itu. Jika hasilnya seri atau gw masih galau, keputusan itu gw kembalikan ke Yang Maha Kuasa. Istikhoroh adalah koentji! 
Baiklah sekarang gw akan bikin list plus minus S3 di dalam dan luar negeri ala gw dengan spec: sudah menikah, belum punya anak, dan lagi nyicil KPR.

Plus minus S3 di dalam negeri:

Plus

1. Seatap dengan suami, gak LDR

2. Bisa sering ngumpul sama orangtua. Apalagi orangtua umurnya udah di atas 60an. Sedih juga kalo ditinggal sekolah… Nanti kangen huhu

3. Bisa sambil program hamil, lumayan waktu jadi lowong karena bisa sambil kuliah sambil kontrol ke dokter. Hohoho

4. Pengalaman sebagai fulltime ibu rumah tangga

5. Bisa belanja furniture, bikin desain interior rumah dan taman. Kalau kuliah di luar, terpaksa furniture rumah apa adanya dulu. Sayang kalau dikontrakkan nanti barang-barang pada rusak ga kerawat huhu

6. Bisa sering-sering konferensi ke luar negeri 

7. Disertasi pakai bahasa Indonesia 

Minus

1. Gak dapat pengalaman sekolah di luar negeri

2. Gak ada kesempatan full day berbahasa asing, baik itu berbicara, berpikir, dan menulis

3. Gak bisa mengembangkan jejaring alumni yang lebih internasional. Padahal ke depannya penting banget nih!

4. Terbatas akses buku dan jurnal internasional gratis

5. Ambience-nya kurang mendukung belajar. Bisa-bisa bawaannya mager karena “hanya” di rumah 

6. Kuliah di dalam negeri masih dianggap kurang prestisius. Apalagi ketika teman-teman lo pada lanjut di luar negeri. Duh peer pressure ini mah hehehe

Plus minus S3 di Luar Negeri:

Plus

1. Iklim akademik sangat menunjang karena ada feel udah jauh-jauh sekolah ke luar jadi harus semangaaaat

2. Akses buku dan jurnal internasional gratis melimpah ruah

3. Bisa dibimbing sama profesor kelas dunia

4. Punya teman kuliah dari berbagai negara, berarti link makin besar dan akan dapat update macam-macam ilmu yang belum kita dengar sebelumnya

5. Yah walau bagaimana pun lulusan luar masih dianggap lebih prestisius daripada dalam negeri. Intinya mah CV jadi kece dan banyak yang respek sama kita hehe

6. Dapat exposure kegiatan ilmiah yang lebih besar, semarak, dan beragam

7. Suami bisa les bahasa asing dan ambil sertifikasi pangan. Sambil menyelam minum air

Minus

1. Karir suami jadi taruhan. Tidak ada kepastian suami bisa dapat pekerjaan yang layak setelah balik ke Indonesia

2. Jauh dari orangtua. Kalau ada apa-apa, agak repot jadinya. Sebab gw pergi pakai paspor biru, jadi kalau mau keluar negeri harus ada izin permit dari Kedubes 

3. Kalo dengar cerita dari teman-teman yang lagi PhD di luar, tugas dan bahan bacaannya nampoooooooool!! Banyak yang ga mampu mengendalikan esmosi karena setres. Takut suami kena imbas wkwkwkwk

4. Yah namanya juga kuliah di luar yang literally lebih maju, tak jarang banyak yang terseok-seok karena secara teori jauh tertinggal dari rekan-rekan seangkatan. 

5. Tak dapat dipungkiri, kendala bahasa. Apalagi kita dari negara yang bukan berbahasa Inggris, pasti kesulitan membaca literatur yang bahasa Inggrisnya rada sophisticated

6. Nasib promil gw gimana dooong… huhuhu. Kalo KPR mah Insya Allah gw yakin bisa nutup. Hehehe

Sementara baru itu yang kepikiran. Lhaaaaaaaaa kok seimbang?? Huhuhu. 
Aduh mak ini saya butuh bantuan ladies and guys untuk komen dan kasi second opinion, plisssssssssss. Sambil gw istikhoroh juga. Moga-moga dapat petunjuk dari Allah. Aamin.

Makasi gaes!

Jakarta, 1 November 2017 (Pk.23.00)

Chibi Ranran

Iklan
%d blogger menyukai ini: