2nd Wedding Anniversary, Dua Tahun yang Penuh Keasyikan

30 Mei

29 Mei 2018! Wow ga terasa udah 2 tahun sejak gw ijab kabul di Mesjid At Tin. Lalu, gimana rasanya nikah 2 tahun? Well, banyak hal yang dilakukan bersama. Meskipun ga mudah menyatukan 2 pribadi yang berbeda, jika dilalui dengan penuh kesyukuran maka akan jadi asyik!

Satu hal yang gw sadari adalah seiring berjalannya waktu, kami membuat habit baru yang merupakan hasil negosiasi dari habit masing-masing. Negosiasinya bukan hasil rembukan lho… tapi terbentuk secara tidak sadar. Intinya saling menyesuaikan dan beradaptasi.

Contoh simpelnya gini, suami gw kalau pakai odol itu harus dipencet dari bawah. Jadi kemasan paling bawah akan kosong karena menurut dia lebih efisien. Gaya itu beda banget sama gw yang asal pencet yang penting keluar. Sekarang, tanpa gw sadari gw melakukan kombinasi. Pas naro odol disikat, gw akan pencet sembarangan. Tapi begitu selesai sikat gigi, gw akan rapihin lagi posisi odol biar yang kosong tetap di bawah. Kelihatannya ga penting ya? Tapi perlu diingat, kadang perbedaan habit kecil begini ini yang bisa membawa keangkara murkaan! Dengan bernegosiasi dan beradaptasi sejak awal akan mengurangi resiko kesalahpahaman di masa depan. Wkwkwk.

Contoh lainnya penggunaan uang. Sebelum nikah, gw dan suami udah ngomongin berapa perkiraan biaya bulanan yang akan keluar. Pos mana yang dia tanggung dan pos mana yang gw tanggung. Penting juga untuk memutuskan siapa yang akan pegang uang bulanan. Saran gw, pilih yang paling pintar dan hemat dalam mengelola uang, niscaya pengeluaran akan aman dan gak bengkak parah. Nah, seluruh rincian itu ditulis di buku pengeluaran yang gw siapkan khusus, diberi tanggal, dan ditanda tangani oleh kami berdua. Rincian ini bisa diubah sesuai hasil evaluasi bersama. Misal penggunaan AC bikin biaya listrik lebih mahal dari perkiraan, gw pun bikin revisi anggaran rumah tangga yang dilegitimasi bersama.

Lho kok kesannya ga percayaan banget? Well, berbekal pengalaman hidup, nasehat orangtua, dan curhat dari teman-teman yang udah nikah, kesimpulan gw adalah setiap hal yang berhubungan dengan uang harus diperlakukan dengan cara profesional. Sebab kata bapak gw, uang itu gak ada saudaranya. Keluarga kandung sedarah aja bisa ribut gara-gara uang, apalagi yang ga sedarah. Dan yang perlu diingat, suami istri walaupun mahram, tetap bukan satu darah. Persoalan uang memang sensitif. Jangan sampai suami/istri ngedumel dalam hati karena ada yang merasa terlalu berat untuk menafkahi atau merasa kurang dinafkahi, trus akhirnya curcol di medsos sehingga seluruh dunia tahu. Bisa perang dunia nanti!

Dalam rumah tangga gw, semua dilakukan sesuai prinsip “Right (wo)man in the right place”. Untuk urusan domestik rumah tangga, serahkan saja pada ahlinya! Contoh, suami gw lebih jago masak dari pada gw. Aku mah apa atuhhh… cuma pinter ngabisin makanan. Wkwkwk. Jadi, urusan belanja bahan makanan, masak, sampai cuci piring itu jadi tanggung jawab suami gw. Walaupun kitchen set gw warna pink (warna fave gw), tapi penguasanya adalah suami gw. Hohoho. Selain itu suami gw juga bertugas buang sampah dan beli galon.

Lalu, kerjaan gw apa? Gw lebih ahli bersih-bersih dari suami. Nyapu, ngepel, ngelap, gosrek toilet, itu semua kerjaan gw. Trus yang nyuci dan gosok siapa? Well, sejak kami ga pakai asisten rumah tangga, yaa sesuai prinsip utama. Serahkan ke laundry aja! Ahahahaa… Jaman sibuk kayak gini, kita harus hemat energi. Jangan terlalu capek nanti bawaannya emosi lho. Kalau emosi udah bermain, ujungnya bakal keluar kata-kata merasa tidak dihargai, tidak diperhatikan, tidak disayang, bla bla. Perang dunia lagi deh…

Ada juga kerjaan-kerjaan yang dilakukan bersama. Misalnya ganti seprei, cuci pakaian dalam, dan potong rumput halaman. Sistemnya gantian aja. Siapa yang gak mager dia yang ngerjain. Kalau mager dua-duanya ya gak usah dikerjain. Kadang juga kalau kami mager dengan tugas masing-masing, ya jangan dikerjakan dulu. Kalau suami lagi malas masak, ya tinggal beli makanan yang disuka. Kalau gw lagi malas beberes ya gak usah dipaksain. Gak usah terlalu ngoyo harus ini itu karena bakal stress sendiri.

Selain pembagian tugas rumah tangga, rutinitas tambahan juga harus didiskusikan bersama. Misalnya suami gw mau kuliah lagi, sebagai istri tugas gw adalah mendukung dia. Dari awal harus paham resiko dari rutinitas baru ini seperti dia bakal pulang malam plus sabtu kuliah seharian. Kalau suami mau nongkrong, dia juga selalu nanya ke gw dulu. Sebab dia tau, dalam perkataan istri itu ada sebuah pesan dari semesta untuk kemaslahatan dia. Jangan lupa, firasat istri itu mampu menembus ruang dan waktu yang seringkali menyelamatkan suami dari hal yang penuh marabahaya.

Sebaliknya, suami juga mendukung kegiatan istri. Misalnya gw mau konfrensi di sana sini, suami mendukung penuh. Biasanya sebelum apply, gw akan tanya dulu ke suami. Boleh ngga ikut konfrensi ini. Gw selalu nanya dulu walaupun gw tahu jawabannya selalu boleh. Wkwkwk. Buat gw, ini tuh kayak minta restu dan ridho suami karena setelah ijab kabul terjadi, tanggung jawab pindah dari orangtua ke suami. Percaya deh… kalo suami udah ridho, doanya akan menembus langit dan bikin kita sukses. Pernah lhoo gw iseng ga bilang-bilang. Ternyata gw gak lolos seleksi booo… Beda kalau gw bilang, jalannya dimudahkan dan rejeki itu selalu datang.

Dalam 2 tahun pernikahan ini, kami tau kalau cinta itu perlu dimaintenance, perlu dipupuk, perlu diingatkan biar gak lupa. Jangan absen untuk saling menyatakan “I love you”, jangan ragu untuk berpelukan, jangan malas untuk saling memuji dan mengatakan “Duh aku beruntung banget sih nikah sama kamu…”, “Kamu keputusan terbaik yang pernah aku ambil dalam hidup”, “Makasih sayang karena udah sayang aku”, dsb. Memang terdengar cheesy, but why not selama itu membuat 2 orang merasa saling melengkapi dan saling mensyukuri. Sebab jangan lupa, cinta itu harus terus diupayakan.

Jadi gimana rasanya 2 tahun nikah? Wooow penuh keasyikan! 😄😄😄

Jakarta, 30 Mei 2018

Chibi Ranran

Iklan
%d blogger menyukai ini: