Pengalaman Hamil Trisemester Pertama

13 Sep

Well well well… Setelah berjibaku dengan aktivitas harian yang membuat semaput, akhirnya kehamilan gw memasuki trisemester kedua! Yay!

Seriously, sejak gw hamil gw jadi big respect sama para ibu hamil (bumil) di luar sanah. Anda luar biasaaaaaaaaa!! Prok prok prok

Emangnya apasih yang dirasakan oleh para bumil yang sedang hamil muda khususnya trisemester pertama?

Pertama, penuh rasa syukur! Apalagi kalau nungguinnya lama dan gak langsung dikasih sesegera setelah menikah. Gw menunggu 2 tahun sebelum akhirnya dikasih anugerah sama Allah. Tapi, dari dulu gw selalu percaya kalau rencana Allah itu yang paling baik dan indah. 2 tahun bagi gw adalah waktu menunggu yang pas. Sebab selama durasi itu gw dan suami bisa saling memahami dan mengerti pola pikir serta habit masing-masing. Dengan begitu, kehamilan ini bukan cuma “milik” gw, tapi milik bersama. Kami menjalaninya sebagai tim yang saling melengkapi, saling bantu, dan saling menyemangati. No unnecessary drama karena kami menjadi support system yang kuat.

Trus apalagi yang dirasain selain bahagia? Dengan tidak mengurangi rasa syukur, tentu ada hal-hal yang berubah baik secara fisik maupun psikis. Tentu setiap bumil akan merasakan hal yang beda. Dan perlu digaris bawahi kalau reaksi tubuh orang berbeda-beda. Ada yang kata orang hamil kebo alias hamil minim keluhan. Dia tetap bisa beraktivitas seperti biasa tanpa ada kendala. Di sisi lain, ada juga yang perlu struggle to the max. Bahkan ada yang sampai dirawat di rumah sakit sepanjang kehamilan karena bergerak sedikit saja sudah banjir flek. Intinya, selalu posisikan diri menjadi orang yang berempati sama bumil. Gak usah banding-bandingin sama kehamilan sendiri atau cerita kehamilan orang lain.

Kalau gw pribadi, merasa super lemas, lelah, letih, dan lesu. Ditambah lagi ngantuk yang teramat sangat. Saat pertama kali periksa ke Obgyn, gw dikasih Folavit dan obat penguat kandungan (lupa namanya apa) yang harus diminum selama 15 hari. Selama minum obat itu, gw merasa pusing, ngantuk, mual, dan susah berpikir. Dilematis karena kerjaan gw sebagai peneliti dan harus bikin tulisan sana sini.

Kalau ngantuknya gw tahan-tahan, rasanya bagaikan zombi yang belum tidur beberapa abad. Trus jalan gentayangan di koridor kantor tanpa ngerti mau apa. Sumpeeeh lebay  yesss…. Hahaha. Tapi beneran sih, gw jadi kurang konsentrasi dan mau muntah kalau nahan kantuk.

Lalu, sebuah drama besar pun terjadi pada hari ke 10 minum obat itu. Badan gw hangat dan makin lama panasnya makin naik. Udah minum air berliter-liter, tapi panasnya masih gak turun juga. Mau minum Paracetamol, tapi gak berani. Akhirnya gw kontrol lagi ke Obgyn. Kali ini Obgyn berbeda dengan Obgyn pertama karena gw kurang sreg. Kata Obgyn kedua, minum Paracetamol gak apa-apa. Tapi jangan kebanyakan. Oke lah, gw pun minum salah satu merk Paracetamol yang biasa gw konsumsi sejak dulu. Lalu apa yang terjadi sodara-sodara, muncullah bentol-bentol gak jelas di paha, betis, dan lengan.

Gw pikir bentol itu karena digigit serangga atau tungau kasur. Tapi lama kelamaan bentol makin besar, lebar, merah, dan gatal. Wah jangan-jangan alergi. Kemudian gw pergi ke dokter umum untuk ngecek itu apaan. Sama dokter dikasih obat alergi yang paling aman untuk bumil. Bukannya sembuh, keesokan harinya si bentol menyebar ke seluruh tubuh. Alamak ternyata biduran!

Balik lagi ke Obgyn yang kemudian dirujuk ke Spesialis Kulit. Saat dicek sama spesialis, dia nanya apa aja yang gw makan 1-2 hari sebelum bentol muncul. Gw bilang makan salmon, bakwan malang, dan Paracetamol. Karena sebelum hamil gw gak pernah alergi setelah makan salmon dan bakwan malang, jadilah gw harus cek darah di lab. Tapi hasil menunjukkan gw baik-baik aja. Ga ada gejala DBD, tifus, dan infeksi saluran kencing. Obat alergi pun dinaikkan dosisnya dari obat pertama yang dari dokter umum. Pesan dokter kalau 3 hari gak sembuh harus kontrol lagi.

Saat minum dari dokter, bentol lama memang mengering. Tapi muncul lagi bentol baru. Kalau gw perhatikan, 1 bentol kering, ga lama muncul 3-4 bentol baru yang lebih besar dan merah. Huft~!Bentolnya pun menjalar ke wajah dan jari-jari baik tangan maupun kaki. Mau jalan susah karena rasanya sakit kalau menapak. Gw pun segera pergi ke Spesialis Kulit lainnya. Kali ini ke rumah sakit pemerintah yang terkenal tokcer.

Pas diperiksa, Spesialisnya kaget karena bentolnya banyak dan terlihat bengkak. Setelah menunjukkan hasil lab dan obat-obat sebelumnya, Spesialis tampak berpikir keras. Sambil menulis resep dia bergumam “Hmm… obat ini buat ibu hamil… Hmmm jangan deh yang ini aja”. Lalu 3 obat pun diresepkan ke gw dengan pesan ini agak kuat jadi minum 2 hari aja. Mudah-mudahan cepat kering bidurannya. Gw mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.

Alhamdulillah, baru minum 2 kali bentolnya langsung kering. Hari kedua seluruh bentol sudah hilang tanpa bekas. Senang sudah sembuh sekaligus was was, ini obat ada pengaruh ke janin atau ngga. Gw pun kontrol lagi ke Obgyn ketiga untuk make sure bayinya aman. Kali ini gw milih Obgyn yang reviewnya bagus di internet. Setelah diperiksan, Alhamdulillah janinnya aman. Fyuh lega banget!

Lalu apa yang bikin gw alergi? Karena penasaran, gw pun coba makan ikan-ikanan dan bakwan malang lagi setelah sembuh. Ternyata gak ada reaksi apa-apa. Kecurigaan gw pun mengarah ke Paracetamol yang diminum bersamaan dengan obat penguat janin. Saat diskusi dengan Spesialis Kulit dan Obgyn ketiga, kata mereka sangat jarang ditemukan alergi Paracetamol atau Paracetamol yang diminum bersamaan dengan obat penguat janin. Tapi karena bentolnya parah, di rekam medis gw hal itu kemudian dijadikan catatan. Mungkin karena perubahan hormon atau ada komposisi dari dua obat itu yang gak cocok di tubuh gw  akhirnya menimbulkan alergi. Akhirnya gw pun stop minum obat penguat janin dan Paracetamol. Yang menarik setelah ga mengkonsumsi obat penguat janin, tingkat pusing, mual, dan ngantuk gw berkurang setengahnya. Gejala-gejala itu masih ada tapi dalam tingkat yang bisa gw tahan tanpa bikin berasa kayak zombi wkwkwk.

Kontrol ke Obgyn ketiga rasanya asik dan menyenangkan. Gak heran reviewnya bagus. Apalagi gw emang sengaja nyari Obgyn perempuan demi kenyamanan. Trus sama Obgyn ketiga, Folavit diganti sama Folamil Genio. Katanya kandungan vitaminnya lebih lengkap, gak hanya asam folat. Trus gw juga dikasih tablet kalsium karena selalu muntah setiap minum produk susu entah itu susu, es krim, yogurt, dll. Yah padahal sebelum hamil selalu minum susu tiap hari. Pas hamil malah gak bisa minum susu. Hiks.

Trus apalagi yang gw rasakan selama trisemester pertama? Yang pasti, mood berubah cepat akibat pengaruh hormon. Kayaknya jadi mudah sensi. Biar ga baper banget, biasanya gw cerita yang gw alami ke suami, keluarga, dan teman. Gw butuh alat ukur yang lebih rasional tentang kebaperan ini. Soalnya ada beberapa orang yang rada nyinyir sama kehamilan gw. Hiks…. Ada yang bilang jangan sampe kehamilan ini ganggu kinerja kerja tim, trus gw dibilang jangan manja, en bla bla. Sakit hati? Iyesss…. Karena gw mikir, ini kan anugerah ya bukannya bahaya atau ancaman. Syukurlah dalam konteks ini semua orang bilang kalau wajar gw baper. Mereka aja ikutan baper. Tapi setelah ditelaah, orang-orang yang gak mengucapkan selamat dan gak turut bahagia itu semuanya adalah orang yang belum merasakan memiliki keturunan dan pasangan. Jadi kata keluarga dan teman gw, wajar aja kalau mereka ga paham strugglenya jadi bumil itu kayak apa. Ya sudahlah… mending fokus dan dekat sama orang-orang baik aja.

Oya, dulu sebelum hamil gw adalah Gojekers. Kemana-mana naik Gojek biar cepat. Tapi setelah hamil, gw pun alih transportasi. Paginya diantar suami, pulangnya naik Gocar atau taksi. Ongkos naik 2-3 kali lipat, tapi lebih aman buat janin. Gw sih pernah nanya ke Obgyn apakah naik/dibonceng motor saat hamil itu aman atau ngga. Jawabannya aman-aman aja kalau emang udah biasa naik motor. Tapi resiko jatuh dari motor itu yang membahayakan bumil dan janin. Well, namanya juga hamil anak pertama jadi kudu eman-eman… Trus gw juga sangat membatasi naik turun tangga. Sehari cuma boleh sekali untuk naik ke kamar di lantai 2. Parno aja, takut jatuh dan kecapean. Maklum masih hamil muda. Apalagi perut gw suka kram kalau kecapean, kelamaan duduk, dan kelamaan berdiri. Kramnya baru hilang setelah rebahan. Alhamdulillah walaupun kram tapi gak ada flek. Yang penting kita tahu batas kemampuan diri.

Sementara jangan ngoyo dulu deh. Gw yang tadinya super aktif ikut kegiatan ini itu dan ikut konferensi sana sini langsung ngerem habis-habisan. Amanah ini penting dan besar karena kita sedang menjaga kelangsungan hidup seorang manusia. Take your time and relax. Enjoy the journey ^^

 

Jakarta, 13 September 2018

Chibi Ranran

Iklan
%d blogger menyukai ini: