Arsip | nulis-nulis ajah RSS feed for this section

Pengalaman Mencari Rumah (Part 2)

25 Jun

Wew sungguh terlalu… Part 1 pengalaman mencari rumah published bulan Juli 2017. Dan hampir setahun setelahnya gw baru bikin part 2-nya. Weleh-weleh *sungkem*. Padahal gw udah dapat rumah dari Agustus 2017. Setelah renov sana sini aka pasang teralis, kanopi, ninggiin tembok belakang, dll gw pun udah pindahan tanggal 25 Desember 2017. Berarti udah 6 bulan sejak gw menempati rumah ini. Alhamdulillah.

Sebelum mendapatkan rumah ini, rasa-rasanya gw udah liat hampir 20 rumah <- ini antara lebay dan halu soalnya lupa hahaha. Tapi yang pasti, tiap Sabtu Minggu gw pasti gerilya cari rumah dari satu cluster ke cluster lain. Rasanya lelah, mual, dan pesimis bakal dapat atau ngga. Sampai pada titik pasrah dan berencana beli unit apartemen sebelah biar space-nya jadi lebih gede dan lega. Tapi, semangat punya bangunan yang berdiri di atas tanah mengalahkan semua kegalauan.

Pas gw lagi nyari rumah bareng bokap yang berjarak 15 menit dari rumah, ga sengaja nemu cluster persis pinggir jalan raya berangkot. Bangunannya pun kelihatan greget dengan model yang modern minimalis.

Lumayan juga nih, sesuai wishlist gw yang rempong itu, yaitu

1. Pinggir jalan berangkot (checked!)

2. Ada minimarket (checked!)

3. Banyak tempat jual makanan (checked!)

4. Dekat dari rumah ortu (checked!)

5. Jarak tempuh dari kantor ga lebih dari 15 kilo. Malah ini jaraknya hanya 10 kilo! (super checked!)

6. 3 kamar tidur, 2 kamar mandi (checked)

7. Ada taman belakang (checked)

8. Harga on budget. Yaah ngimpi dah jaman sekarang nyari rumah di Jakarta yang murah meriah. Hiksssssss (tetot)

9. Luas tanah 105 meter. Rumah itu cuma LT 69 meter, LB 90 meter. (tetot)

10. Parkir 2 mobil. Cuma bisa 1 mobil (tetot)

(Skor 7/10)

Meskipun begitu, so far oke juga nih rumah. Gw pun 99.99% udah niat ambil. Tapi pas ga sengaja memandang ke atas langit, terlihatlah itu tegangan tinggi alias sutet yang bertengger beberapa ratus meter dari cluster. Wadaw!! Galau tingkat dewa. Sempat dengar berita tentang warga yang hidup di bawah sutet dan kabarnya berpengaruh sama kondisi kesehatan.

Langsung deh gw wa teman-teman dokter untuk minta saran dan masukan yang berujung pada “Chib, cari rumah sejauh mungkin dari sutet. Sampe itu sutet ga kelihatan lagi!”. Setelah mendengar itu, gw pun kembali ke titik nadir. Huhuhu.

Trus pas ngobrol sama developer, mereka ngasih masukan untuk lihat cluster lain yang mereka punya yaitu di Cipayung. Meluncurlah gw ke Cipayung dan sungguh indah komplek rumah itu. Ada sekitar 30 rumah dengan jalan komplek yang luaaaaas. Pas pake checklist wishlists, gw pun berpikir ulang.

1.Pinggir jalan berangkot (tetot). Perlu jalan beberapa ratus meter untuk sampai ke jalan berangkot.

2. Ada minimarket (tetot)

3. Banyak tempat jual makanan (tetot. Cuma ada 1 tukang sate)

4. Dekat dari rumah ortu (checked!)

5. Jarak tempuh dari kantor ga lebih dari 15 kilo. (checked. Mayan lah pas 15 kilo)

6. 3 kamar tidur, 2 kamar mandi (checked)

7. Ada taman belakang (checked)

8. Harga on budget (tetot)

9. Luas tanah 105 meter. (checked) Rumah itu cuma LT 115 meter, LB 105 meter.

10. Parkir 2 mobil (checked)

(Skor 6/10)

Nah, dari wishlists itu gw baru ngeh kalo 3 prioritas utama gw adalah nomor 1, 2, 3. Yah maklum anaknya males jalan dan ga tahan laper. Wkwkwk. Karena alasan itu pun gw geleng-gelang pas ditanya oleh developer mau lanjut atau ngga.

Developer tampaknya tak patah semangat. Dia bilang ada satu lagi lokasi cihuy yang suprisingly sangat dekat dengan rumah orangtua gw. Well, karena udah sore gw pun mager dan memilih pulang. Tak disangka, besoknya gw menerima video WA dari bokap. Ternyata isinya adalah rumah di cluster yang dekat rumah orangtua. Bokap yang kepo akhirnya datang sendirian ke cluster dan amazed dengan lokasinya. Gak lama, bokap pun nelpon gw yang lagi asyik di kantor.

Bokap: “Gimana, mau gak? Kalau mau langsung di-booking nih. Pas banget ada yang pojok”

Gw: “Aaak!! Mau!!”

Bokap: “Atau kamu mau lihat dulu ke sini?”

Gw: “Gak usah, ambil aja. Takut keburu diambil orang”

Bokap: “Hahaha. Okeh. Nanti pulang kantor ke sini deh. Lihat sekalian”

Sorenya gw meluncur ke lokasi dan langsung termehek-mehek. Suami gw pun nyusul ke lokasi sepulang kerja. Kami berdua senyum gembira karena sesuai wishlists.

1.Pinggir jalan berangkot (checked!)

2. Ada minimarket (checked!)

3. Banyak tempat jual makanan (checked! Ada warteg, burjo, sotomie, sate, ayam geprek, bakso, dll)

4. Dekat dari rumah ortu (checked!. Cuma 10 menit)

5. Jarak tempuh dari kantor ga lebih dari 15 kilo. (checked. Cuma 12 kilo)

6. 3 kamar tidur, 2 kamar mandi (checked)

7. Ada taman belakang (checked)

8. Harga on budget (tetot)

9. Luas tanah 105 meter. (tetot) Rumah LT 96 meter, LB 80 meter. Tapi gw pikir mah ukuran bukan a big deal. Capek juga bersihinnya wkwkwk

10. Parkir 2 mobil (checked)

(Skor 8/10)

Long story short, setelah proses ini itu, akhirnya akad dilakukan tanggal 12 Desember 2018 jam 15.30 di depan notaris dan dihadiri oleh developer dan pihak KPR bank Muamalat.

Jadi, buat kamu yang sedang hunting rumah, jangan patah semangat! Rumah itu emang jodoh2an. Yang cocok buat seseorang belum tentu cocok untuk orang lain. Yang penting siapkan TEKAD dan NEKAD! Perlu juga wishlist biar proses pencarian rumah jadi spesifik sesuai daftar. Jangan lupa banyak-banyak berdoa dan minta restu orangtua. Rejeki Allah dari pintu mana aja. Jangan takut untuk bermimpi karena kita punya Tuhan yang Maha Kaya. Satu lagi, kencengin nabung kurangin shopping yang unfaedah. Hehehe.

Jakarta, 25 Juni 2018

Chibi Ranran

Iklan

2nd Wedding Anniversary, Dua Tahun yang Penuh Keasyikan

30 Mei

29 Mei 2018! Wow ga terasa udah 2 tahun sejak gw ijab kabul di Mesjid At Tin. Lalu, gimana rasanya nikah 2 tahun? Well, banyak hal yang dilakukan bersama. Meskipun ga mudah menyatukan 2 pribadi yang berbeda, jika dilalui dengan penuh kesyukuran maka akan jadi asyik!

Satu hal yang gw sadari adalah seiring berjalannya waktu, kami membuat habit baru yang merupakan hasil negosiasi dari habit masing-masing. Negosiasinya bukan hasil rembukan lho… tapi terbentuk secara tidak sadar. Intinya saling menyesuaikan dan beradaptasi.

Contoh simpelnya gini, suami gw kalau pakai odol itu harus dipencet dari bawah. Jadi kemasan paling bawah akan kosong karena menurut dia lebih efisien. Gaya itu beda banget sama gw yang asal pencet yang penting keluar. Sekarang, tanpa gw sadari gw melakukan kombinasi. Pas naro odol disikat, gw akan pencet sembarangan. Tapi begitu selesai sikat gigi, gw akan rapihin lagi posisi odol biar yang kosong tetap di bawah. Kelihatannya ga penting ya? Tapi perlu diingat, kadang perbedaan habit kecil begini ini yang bisa membawa keangkara murkaan! Dengan bernegosiasi dan beradaptasi sejak awal akan mengurangi resiko kesalahpahaman di masa depan. Wkwkwk.

Contoh lainnya penggunaan uang. Sebelum nikah, gw dan suami udah ngomongin berapa perkiraan biaya bulanan yang akan keluar. Pos mana yang dia tanggung dan pos mana yang gw tanggung. Penting juga untuk memutuskan siapa yang akan pegang uang bulanan. Saran gw, pilih yang paling pintar dan hemat dalam mengelola uang, niscaya pengeluaran akan aman dan gak bengkak parah. Nah, seluruh rincian itu ditulis di buku pengeluaran yang gw siapkan khusus, diberi tanggal, dan ditanda tangani oleh kami berdua. Rincian ini bisa diubah sesuai hasil evaluasi bersama. Misal penggunaan AC bikin biaya listrik lebih mahal dari perkiraan, gw pun bikin revisi anggaran rumah tangga yang dilegitimasi bersama.

Lho kok kesannya ga percayaan banget? Well, berbekal pengalaman hidup, nasehat orangtua, dan curhat dari teman-teman yang udah nikah, kesimpulan gw adalah setiap hal yang berhubungan dengan uang harus diperlakukan dengan cara profesional. Sebab kata bapak gw, uang itu gak ada saudaranya. Keluarga kandung sedarah aja bisa ribut gara-gara uang, apalagi yang ga sedarah. Dan yang perlu diingat, suami istri walaupun mahram, tetap bukan satu darah. Persoalan uang memang sensitif. Jangan sampai suami/istri ngedumel dalam hati karena ada yang merasa terlalu berat untuk menafkahi atau merasa kurang dinafkahi, trus akhirnya curcol di medsos sehingga seluruh dunia tahu. Bisa perang dunia nanti!

Dalam rumah tangga gw, semua dilakukan sesuai prinsip “Right (wo)man in the right place”. Untuk urusan domestik rumah tangga, serahkan saja pada ahlinya! Contoh, suami gw lebih jago masak dari pada gw. Aku mah apa atuhhh… cuma pinter ngabisin makanan. Wkwkwk. Jadi, urusan belanja bahan makanan, masak, sampai cuci piring itu jadi tanggung jawab suami gw. Walaupun kitchen set gw warna pink (warna fave gw), tapi penguasanya adalah suami gw. Hohoho. Selain itu suami gw juga bertugas buang sampah dan beli galon.

Lalu, kerjaan gw apa? Gw lebih ahli bersih-bersih dari suami. Nyapu, ngepel, ngelap, gosrek toilet, itu semua kerjaan gw. Trus yang nyuci dan gosok siapa? Well, sejak kami ga pakai asisten rumah tangga, yaa sesuai prinsip utama. Serahkan ke laundry aja! Ahahahaa… Jaman sibuk kayak gini, kita harus hemat energi. Jangan terlalu capek nanti bawaannya emosi lho. Kalau emosi udah bermain, ujungnya bakal keluar kata-kata merasa tidak dihargai, tidak diperhatikan, tidak disayang, bla bla. Perang dunia lagi deh…

Ada juga kerjaan-kerjaan yang dilakukan bersama. Misalnya ganti seprei, cuci pakaian dalam, dan potong rumput halaman. Sistemnya gantian aja. Siapa yang gak mager dia yang ngerjain. Kalau mager dua-duanya ya gak usah dikerjain. Kadang juga kalau kami mager dengan tugas masing-masing, ya jangan dikerjakan dulu. Kalau suami lagi malas masak, ya tinggal beli makanan yang disuka. Kalau gw lagi malas beberes ya gak usah dipaksain. Gak usah terlalu ngoyo harus ini itu karena bakal stress sendiri.

Selain pembagian tugas rumah tangga, rutinitas tambahan juga harus didiskusikan bersama. Misalnya suami gw mau kuliah lagi, sebagai istri tugas gw adalah mendukung dia. Dari awal harus paham resiko dari rutinitas baru ini seperti dia bakal pulang malam plus sabtu kuliah seharian. Kalau suami mau nongkrong, dia juga selalu nanya ke gw dulu. Sebab dia tau, dalam perkataan istri itu ada sebuah pesan dari semesta untuk kemaslahatan dia. Jangan lupa, firasat istri itu mampu menembus ruang dan waktu yang seringkali menyelamatkan suami dari hal yang penuh marabahaya.

Sebaliknya, suami juga mendukung kegiatan istri. Misalnya gw mau konfrensi di sana sini, suami mendukung penuh. Biasanya sebelum apply, gw akan tanya dulu ke suami. Boleh ngga ikut konfrensi ini. Gw selalu nanya dulu walaupun gw tahu jawabannya selalu boleh. Wkwkwk. Buat gw, ini tuh kayak minta restu dan ridho suami karena setelah ijab kabul terjadi, tanggung jawab pindah dari orangtua ke suami. Percaya deh… kalo suami udah ridho, doanya akan menembus langit dan bikin kita sukses. Pernah lhoo gw iseng ga bilang-bilang. Ternyata gw gak lolos seleksi booo… Beda kalau gw bilang, jalannya dimudahkan dan rejeki itu selalu datang.

Dalam 2 tahun pernikahan ini, kami tau kalau cinta itu perlu dimaintenance, perlu dipupuk, perlu diingatkan biar gak lupa. Jangan absen untuk saling menyatakan “I love you”, jangan ragu untuk berpelukan, jangan malas untuk saling memuji dan mengatakan “Duh aku beruntung banget sih nikah sama kamu…”, “Kamu keputusan terbaik yang pernah aku ambil dalam hidup”, “Makasih sayang karena udah sayang aku”, dsb. Memang terdengar cheesy, but why not selama itu membuat 2 orang merasa saling melengkapi dan saling mensyukuri. Sebab jangan lupa, cinta itu harus terus diupayakan.

Jadi gimana rasanya 2 tahun nikah? Wooow penuh keasyikan! 😄😄😄

Jakarta, 30 Mei 2018

Chibi Ranran

Finally ke Washington DC, Amerika! (Tentang Paspor Biru dan Visa Dinas)

10 Mar

Akhirnyaaa~~ impian masa kecil terwujudkan juga! Akhirnya Amerikaaa!!

Hehehe. Tenang.. tenang. Mau tau gimana ceritanya gw bisa ke Amerika?

Jadi gini, tahun lalu gw ikut konferensi studi Asia di Toronto, Kanada. Penyelenggaranya Association for Asian Studies (AAS). Flight gw dari Jakarta ke Toronto ternyata melintasi Washington DC. Walaupun cuma lewat dari udara, gw bertekad dengan keyakinan kuat kalo 2018 gw akan ke sana!

Well, siapa sangka, konferensi AAS 2018 venue-nya di Marriott Wardman Park Hotel yang bertempat di Washington DC. Ibukotanya Amerika plus ada Lincoln Park yang pengen banget gw kunjungi. Gw bahkan punya foto Lincoln Park yang ditempel di pintu lemari baju. Jadi tiap bangun tidur yang langsung dilihat foto itu. Hahaha. Siapa sangka, semesta kembali mendukung langkah kaki gw. Alhamdulillah ya Allah…

Nah, balik lagi ke AAS, gw pun ngontak teman-teman untuk bikin panel di AAS. Karena tema abadi gw adalah hijab cosplay, gw pun membuat panel Islam and Japan Pop Culture. Kenapa Islam and Japan Pop Culture? Selain itu tema yang gw suka, tema itu pun sedang naik daun di kalangan scholar internasional. Kenapa mesti bikin panel? Karena menurut panitia, peluang lolos seleksi untuk panel lebih besar daripada apply individual.

Satu nama yang langsung muncul dalam otak gw adalah Suraya Md Nasir asal Malaysia yang lagi PhD di Kyoto Seika Daigaku. Gw ketemu dia waktu konferensi di Cebu, Manila dan temanya adalah Hijab Manga. Wah cucok meoooong ya cintt!

Lalu, nama kedua adalah Roberto Masami. Gw baru kenal dia waktu pertemuan Japanscope di Japan Foundation Jakarta. Waktu itu, gw sama dia dikelompokin dalam panel yang sama karena temanya Roberto adalah Halal Food.

Karena 1 panel isinya minimal 4 orang, gw pun mengontak Himmi alias Himawan Pratama yang kapabilitasnya ga perlu dipertanyakan lagi. Setelah ngobrol-ngobrol via WA, Himmi pun bersedia ikut dan tema yang akan dia angkat tentang novel Islami yang bertema jejepangan.

Olraaaait! Formasi sudah lengkap, gw pun membuat time table untuk tim. Kapan harus kumpulin abstrak individu, kapan bikin abstrak tim, kapan deadline proposal, dll. Dengan langkah tegap maju jalan, proposal tim gw submit beberapa hari sebelum deadline. Sambil harap-harap cemas, moga keterima. Karena kabarnya, tingkat kesulitannya lumayan tinggi. Setelah usaha, doa, tinggallah keyakinan. Gw selalu positive thinking bahwa proposal ini akan lolos seleksi dan tim kami akan presentasi di Amerika.

Total kurang lebih 6 bulan dari persiapan (ngumpulin orang-orang) sampai pengumuman hasil. Daaaaaaaaan KAMI LOLOS!! Yay~~~ Wah happy banget! Luar biasa rasanya. Tapi tunggu! Jangan terbawa suasana dulu. Masih ada tahap apply visa yang harus dilalui. Ini yang bikin deg-degan parah lahir batin jiwa raga!!

Gw mau cerita sedikit soal kekonyolan gw waktu bikin visa Amerika. Waktu itu tanggal 22 Desember 2017, gw bikin janji wawancara di kedutaan. Well, tahapan isi form aplikasi visa dan pembayaran di CIMB gw skip yaa.. Karena udah banyak banget blog yang bahas.

Naaah… Kalau diingat-ingat, waktu itu gw mixed feeling antara kaget, seneng, dan sedih. Wkwkwk. JSetelah rempong sana sini ngurus kelengkapan visa Amerika, gw pun bikin janji temu hari ini jam 7 pagi. Dari semalam udah ga bisa tidur karena grogi campur deg2an. Ini sih efek baca-baca blog tentang sulitnya mendapatkan visa Amerika.

Tepat jam 6.30 gw udah sampe di Kedutaan. Langsung disuruh masuk ke dalam untuk dicek berkas. Pas sampe ruang tunggu, gw dapat urutan no 33. Wah lumayan juga nunggunya. Tibalah saat yang paling menegangkan bagi semua orang, yaitu ketika masuk ke ruangan untuk sesi interview dengan pejabat konsulat yang semuanya orang Amerika. Sambil nunggu, kita bisa nyimak pertanyaan dan jawaban dari orang-orang yang diinterview. Ada yang diinterview pake bahasa Inggris ada juga yang pakai bahasa Indonesia. Kelihatan sih ada yang grogi, ada yang excited, dan ada yang santai. Yang visanya lolos relatif yang lebih rileks saat diinterview dan tujuannya jelas.

Tibalah giliran gw yang dipanggil. Jreng jreng… Mbak yang interview ngeliet paspor gw. Kebetulan gw apply pakai paspor dinas aka paspor biru.

Percakapannya seinget gw begini:

Mbak: Apa tujuan ibu pergi ke Amerika?
Gw: Menghadiri konferensi Association for Asian Studies di Washington DC
Mbak: Boleh saya lihat undangan?
Gw: Silahkan *sambil nyodorin*
Mbak: Ibu pergi mewakili Indonesia atau nama sendiri?
Gw: Mewakili Indonesia
Mbak: Aduh ibu seharusnya pakai visa dinas. Tidak perlu wawancara dan tidak perlu bayar… Gratis. Karena ibu pakai paspor dinas.
Gw: *kaget* Oh gitu ya. *Padahal dalam hati: apaaahh?? Gratisss?? Oooh dua jutakuuu… huhuhu*
Mbak: Iya ibu. Kalau pakai visa dinas, ibu tidak boleh jalan-jalan sama keluarga atau ke Disneyland. Kalau pakai visa di paspor biasa, ibu bisa jalan-jalan.
Gw: *Ngangguk2*
Mbak: Ibu ada paspor biasa?
Gw: Ada
Mbak: Baiklah. Saya buatkan surat dari sini untuk mengurus visa dinas ya. Ibu minta diuruskan oleh kantor saja, tidak perlu urus sendiri. Bisa kirim lewat kurir, tidak perlu datang lagi.
Gw: Makasih ya
Mbak: Ibu ini suratnya. Karena ibu adalah perwakilan negara Indonesia, pakai visa dinas ya. Nanti kirim juga paspor biasa ibu. Kami akan issued 2 visa. Satu di paspor dinas, satu lagi di paspor biasa. Ini saya kembalikan dokumen dan paspor dinasnya. Terima kasih.
Gw: Baik, terima kasih ya…

Trus langsung nelpon kantor dan nanya tentang visa dinas ini. Terjadilah kehebohan dan gw diketawain. “Aduuuh gimana sih mbak.. Terlalu inisiatif. Sayang duidnya udah keluar. Padahal mah buat kita gratis. Wkwkwk”. Lalu berkas-berkas itu pun gw serahkan ke kantor.

Well, tampaknya tentang ini harus gw tulis di blog. Sebab selama proses pengurusan visa, gw baca banyaaaaaak banget blog tentang pengalaman masing-masing orang. Sayangnya ga nemu blog yang membahas visa Amerika untuk paspor dinas/biru. Ini pun menjadi pembelajaran yang berharga.

Hikmah yang membahagiakan hari ini adalah ekspektasi bikin 1 visa, malah mau dikasih 2. Rejeki rejeki… Dan satu lagi, kalau pakai paspor dinas tuh jangan urus sendiri. Serahkan saja sama ahlinya. Hehehe.

Sooo~~ what to do wahai pemilik paspor biru atau dinas yang mau apply visa Amerika? Yang pertama adalah lapor sama bos kalo lo mau ke Amerika dan minta dibuatkan surat pengantar ke divisi yang ngurusin perihal perjalanan dinas. Kalo di tempat gw namanya Biro Umum. Apa aja ceklisnya:

  1. Surat Pengantar dari Atasan (bahasa Indonesia, kop instansi, ttd cap basah)
  2. Letter of Invitation dari pengundang
  3. Jadwal kegiatan konferensi (yang ada nama kita kapan akan presentasi)
  4. Form daftar riwayat hidup (bahasa Indonesia)
  5. Short cv (2-3 halaman aja, berbahasa Inggris)
  6. Fotokopi KTP
  7. Paspor biru
  8. Bukti bayar visa Amerika
  9. Rancangan Anggaran Belanja (RAB). Ini tuh kayak rincian dana yang akan dipakai selama di sana. Isinya seperti berapa biaya tiket, hotel, makan, transportasi.
  10. Copy Aplikasi form DS 160 (jangan lupa sesuaikan jenis visanya. Kalau gw pakai visa A2 untuk konferensi). Sebenarnya ini ga diminta sih, tapi buat jaga-jaga, serahkan aja deh. Kalo gak kepake bakal dibalikin kok.

Kira-kira 4-5 hari, visa dinas gw issued! Yay~ Gak hanya itu, visa B1/2 di paspor hijau pun keluar juga! Wah rejeki banget. 2 paspor, 2 visa issued.

Oke, masalah visa kelar. Saatnya packing dan persiapan lahir batin menempuh perjalanan 25 jam! Hihihi

Ntar gw update tentang perjalanan selama di Washington DC yesss~~ ❤

 

Jakarta, 10 Maret 2018

Chibi Ranran

 

Perjuangan Mencari Rumah (Part 1)

22 Jul

Well, gw memutuskan untuk menulis ini karena ingin berbagi pengalaman soal (susahnya) mencari rumah. Sebelum nikah, gw selalu bertekad kalau hanya tinggal di apartemen selama satu tahun. Setelah itu gw akan beli rumah. Keyakinan itu selalu gw tanam kuat-kuat dalam hati sambil sesekali sesumbar. Sesumbar bukan untuk pamer atau congkak, tapi ketahuilah.. itu akan membuat impian kita tercapai. Sebab, ada orang-orang yang turut mendoakan. Serta setiap ucapan kita, mana tau ada malaikat lewat lalu didoakan. Aamin..Benar saja, 9 bulan setelah nikah gw mulai gerilya habis-habisan mencari rumah. Hampir setiap minggu gw survei sana sini. Kebanyakan ditemenin bokap, yeah my partner in crime! Hoho. Kadang-kadang ditemani suamik karena Jumat Sabtu dia sibuk kuliah.

Saran gw, sebelum membeli rumah tentukan dulu mau lokasi dimana. Gw prefer rumah yang dekat dengan orangtua. Apalagi kebetulan rumah mertua gak jauh dari rumah orangtua gw. Jadi ya pas banget. Trus syarat mutlak lainnya adalah harus dekat akses angkot karena gw anaknya suka ngangkot wkwkwk. Kalau dekat akses angkot juga memudahkan ngasih ancer-ancer untuk orang yang mau k rumah kita. Patokan jelas dan Insya Allah kemungkinan nyasarnya kecil. Trus syarat lainnya adalah ada minimarket, warteg (yess gw anaknya doyan makan warteg hahaha), dan mesjid. Biar barokah boo.. dengerin adzan tiap hari. Plus kalo mau tarawih juga jadi gampang. Lalu ada halaman belakang buat jemur. Ya kali jemur baju di depan rumah, segala underware visa berkibar-kibar dilihat tetangga. Wkwkwk. Banyak ya syaratnya? Gak apa, namanya juga harapan. Kan berharap setinggi-tingginya, biar kalau ga kesampaian tetep berada di atas standar. Hohoho

Syarat tambahan yang sifatnya mubah alis kalau ada syukur, kalo ngga ya gak apa-apa adalah bisa parkir 2 mobil. Yah mana tau Allah kasih rejeki dan bisa beli mobil lagi. Aamin. Selain itu, kalau ada tamu juga bisa numpang parkir dan ga nyusahin tetangga karena jalanan rapet. Dan satu lagi, lokasi ga lebih dari 20 kilo dari kantor. Jangan sampe tua di jalan kelamaan. Hikss. Kemudian dimulailah gerilya di daerah radius maksimal 5 kilo dari rumah orangtua dan 20 kilo dari kantor.

Rumah pertama yang gw survei, langsung jatuh cintrong! Karena semua syarat terpenuhi. Saat itu gw agak congkak karena merasa mencari rumah itu gampang, ga sesulit yang dibilang orang. Yah balik lagi sih jadi manusia jangan congkak yah cinttt… akhirnya gw pun kualat! Wkwkwk.

Setelah ngasih booking fee Rp5juta (lagi promo, biasanya 10juta), muncullah kekhawatiran alias worst case scenario. Sebab di rumah ini indent alias bukan ready stock. Skema awal gw adalah cash keras atau bayar selama beberapa kali (biasanya 3 kali) dalam periode tertentu.

Trus kakak gw worried karena kebanyakan developer pada mangkir kalo indent begini. Apalagi kalau udah lunas pembayarannya. Ga ada janji yang bisa dipegang. Kadang ga adil juga sih.. kalo customer yang telat bayar, biaya hangus. Kalo developer yang telat bangun, pinaltinya apa? Nah lho!

Setelah bokap gw konsul sama saudara yang kerjaannya notaris, akhirnya memilih untuk cari rumah ready stock. Masa mau beli sesuatu tapi barangnya belum ada? Lagipula, salah satu indikator developer bonafide adalah yang mampu nyiapin rumah ready stock. Means modalnya banyak.

Rumah juga perlu disurvei yang secara fisik udah siap. Biar bisa resapi rasanya tinggal di situ. Nyaman atau ngga, betah atau ngga. Pembagian ruangannya suka atau ngga. Feelnya dapet atau ngga. Ada penghuninya atau ngga… Hihihi.

Akhirnya bokap gw pun ngajuin skema pembayaran seperti ini: cash keras 3 kali, pembayaran pertama untuk tanda jadi, pembayaran kedua setelah atap naik, dan pembayaran ketiga saat serah terima kunci. Lumayan win win solution kan. Sama-sama aman. Tapi, emang belum jodoh kali ya.. Setelah deramak yang lumayan ngeselin karena si sales yang gampang baper, akhirnya batal lah gw beli dream house ituh! Gak ngerti gimana ceritanya, terakhir baru tau kalau developernya oke dengan skema yang gw ajukan, tapi si sales kurang informatif. Malahan mutung (ngambek) sampai-sampai ga mau balas wa dan angkat telepon. Ajaib kan? Hahaha. Ya sudahlah, kemudian dimulai lagi babak pencarian rumah. Hohoho

Hampir tiap hari kerjaannya ngubek-ngubek website penyedia layanan jual beli rumah. Subscribed email biar dapat notifikasi. Sebab, cari rumah itu ibarat siapa cepat dia dapat! Pernah suatu ketika nemu iklan rumah yang lokasi oke dan harga juga di bawah pasaran. Pas ngontak salesnya ternyata udah sold out. Padahal baru bulan lalu diiklankan. Luar biasa kan? Jadi ya sempatkan cek notifikasi kalau-kalau ada iklan baru yang sesuai spec yang diinginkan.

Selain itu, gw juga kontak sales-sales dan minta di wa kalau ada info rumah yang oke. Jangan lupa kasih tau segala persyaratan seperti yang gw sebut di atas tadi. Biar para sales bisa sortir dan ngasi info sesuai kebutuhan.

Jangan patah semangat kalau belum dapat yang cocok di hati. Jangan gegabah juga dalam memutuskan memilih rumah. Perhatikan lingkungan sekitar, resapan air dimana, banjir atau ngga, apakah area itu dulunya tanah urukan atau tanah keras. Hati-hati kalau beli rumah di tanah bekas tanah urukan. Soalnya bangunan rumah bisa cepat retak karena pondasi bawahnya kurang solid.

Terakhir, banyak-banyak berdoa! Sebab, ini perkara rejeki dan jodoh. Minta dipertemukan dengan rumah yang terbaik menurut Allah, dimudahkan segala upaya, dan rumah yang barokah. Segala sesuatu itu memang perlu diperjuangkan.

Begitulah kira-kira. Insya Allah akan gw update lagi proses pencarian rumah di part berikutnya. Hoho. Intinya mah semangat!!

Jakarta, 22 Juli 2017
Chibi Ranran

Nyobain Magic Ring SK-II. Wow masih 22 Tahun!

1 Jul

Setelah beberapa bulan pakai produk SK-II, kakak ngajak nyobain magic ring SK-II buat tau kondisi kulit. Di setiap counter SK-II tersedia layanan ini. Dan gratis!! Dan mbak-mbaknya ga nawarin produk lho. Jadi kita ga berasa kikuk atau feel guilty setelah nyoba sesuatu yang gratis. Hehehe 😜
Dari semalam deg-degan juga sih. Sebab tahun ini gw 31 tahun. Kondisi kulit gw kayak apa yaa.. Huhuhu. Kata mbaknya, kalo hasil di atas 50% itu udah bagus. 
Sebelum dites pakai alat, mbaknya menginput data bulan + tahun lahir, jenis kelamin, dan sedang make up atau ngga. Lalu alat pun ditempel di bagian pipi, cekrek, dan voila!

Wah kaget dan seneng banget pas dapat hasil 63%. Overall skin age-nya 22 tahun pula. Sesuatuuuk!! 

Habis nyobain magic ring SK-II buat tau kondisi kulit. Kata mbaknya, kalo hasil di atas 50% itu udah bagus. Alhamdulillah tadi dapat 63% dan skin age-nya 22 tahun. Sesuatuuuk!! 



Mbaknya pun nawarin hasilnya mau difoto atau ngga. Jelas mau! Hihihi. Gak lupa minta selfi bareng mbaknya. Hahaha. Trims SK-II!

Ini postingan bukan endors lho yaaa 😄😄
Jakarta, 1 Juli 2017

Chibi Ranran

My Father My Hero

19 Jun


Gak sengaja muncul memory di timeline Facebook, 19 Juni 2015. Dengan caption “Paling seneng kalo pulang kantor udah ditungguin di pagar sama lansia kece 63 tahun ini… I’m hoooome~ ❤️”
Lansia kece ini sekarang udah 65 tahun lho~~ Duh jadi kangen masa2 waktu pulang ke rumah dan udah ada yang nungguin di pagar. Kata bokap, begitu jadi istri orang harus keluar dari rumah dan hidup mandiri. Jadi, segera setelah ijab kabul diucapkan, malam selepas resepsi gw udah gak pulang ke rumah. Amazed juga sih.. siapa sangka gw bisa hidup berdua suami. Bareng2 ngerjain kerjaan rumah tangga dan ga pakai jasa ART. Masih survived sampai sekarang! 💪🏻💪🏻💪🏻
Love you, dad!
Jakarta, 19 Juni 2017

Chibi Ranran

Hijab Cosplay as Luffy One Piece

29 Apr


Since Luffy has simple outfit and I have Luffy’s hat. 😄😄😄 Btw, I’m in Subang-Malaysia to attend the first hijab cosplay event Malaysia. Pretty cool!
After that, I spent holiday with my loved one… This is our second time in Malaysia as husband and wife. 😘

Malaysia, 29 April 2017

Chibi Ranran