Arsip | story of my life RSS feed for this section

S3 di Dalam atau Luar Negeri?

2 Nov

Yeah.. berbulan-bulan ini gw dihantui sama berbagai pertimbangan tentang baiknya lanjut sekolah ke mana. Tentu sebagai orang yang S1 dan S2-nya di dalam negeri, niatan untuk S3 di luar negeri itu amat sangat besar.
Selain mendapat pengalaman dan suasana baru, akses jurnal dan buku jauh lebih besar daripada kuliah di dalam negeri. Kesempatan untuk belajar di bawah bimbingan profesor kelas dunia pun menjadi daya tarik tersendiri. Namun, posisi gw sekarang sudah tidak single lagi. Ada faktor suami yang harus menjadi salah satu bahan pertimbangan. 

Sebelum menikah, gw pun sudah membicarakan ini sama dia. “Kalau aku melanjutkan S3 di luar negeri, kamu mau ikut ngga?” Bahkan pertanyaan ini adalah yang pertama gw ajukan sebelum menjawab pinangannya. Tanpa pikir panjang, dia menjawab “Ikut” diiringi senyum yang mengembang. 
Gw pun balik berusaha mempertegas, “Meskipun kamu meninggalkan karir di Indonesia menuju sesuatu yang belum pasti di sana? Dan belum tentu juga kamu bisa mulus dapat pekerjaan setelah balik ke Indonesia. 4 tahun itu bukan waktu yang sebentar”. Dan suami gw kala itu menjawab, “Gak apa-apa. Meskipun meninggalkan karir, aku mau nemenin kamu sekolah”.

Setelah satu tahun lebih menikah ketika gw bertanya hal ini lagi, jawaban dia masih sama. Dengan senyum mengembang dia bahkan menjawab “Aku lebih senang kamu lanjut sekolah di luar negeri…”
Satu hal, gw sangat bersyukur mendapatkan pasangan yang sangat support impian istrinya. Boleh dibilang, dia itu lucky charm gw. Sejak menikah, dia adalah supporter nomor 1. Rela tidur di ruang tv demi nemenin gw begadang ngerjain paper sampai pagi. Dia juga selalu merestui keberangkatan gw pergi konferensi baik di dalam maupun luar negeri. Tak sekalipun ada kata larangan untuk pergi dan berkarya. Bahkan saat gw penelitian lapangan di kota sebelah, dia rela menembus 9 jam kemacetan hanya untuk bertemu gw kurang dari 10 jam. What can I say, I am the luckiest!

Oleh karena kebaikan hati dan ketulusan cintanya itu, gw jadi tidak tega merusak karir yang sudah dibangun selama ini. Tidak rela melihat dignity-nya sebagai laki-laki dianggap koyak oleh society karena menanggalkan semua statusnya menuju tahun-tahun panjang sebagai bapak rumah tangga. Gw pun tidak kuasa membayangkan dirinya bekerja di sektor kerah biru saat menemani gw sekolah. Kembali lagi, 4 tahun bukan sebentar, Jendral! 
Gw pun sejatinya tidak ingin berdiri di puncak Everest seorang diri. Standar kesuksesan bagi gw sudah berubah. Tak lagi all about me, tapi all about us. Tak mengapa berdiri di puncak yang tidak setinggi Everest, namun bisa bersama dengan yang dicinta. Sebab walau bagaimanapun, family comes first! Waktu gw sakit dan dirawat di RS, apakah pekerjaan, almamater, dan kesuksesan datang membesuk? Ooh tidak sama sekali. Tak satu pun hadir dan menunjukkan kepalanya. Selama itu, gw hanya di kelilingi oleh keluarga dan teman. 
Bahkan ketika gw meyakinkan agar suami berangkat ke kantor saja karena di RS ada banyak perawat yang bisa diandalkan, suami gw memilih cuti karena baginya percuma berada di kantor jika pikirannya hanya tertuju untuk istrinya yang sedang sakit. 
Dari situ gw bisa merasakan betapa tulus dan dalam kasihnya kepada gw. Buat gw adalah wajar jika keluarga yang notabene adalah sedarah bisa memiliki cinta semacam itu. Namun akan jadi luar biasa ketika kita menyadari bahwa pasangan itu menjadi keluarga karena dibuat, made by design, gak sedarah. Jika seseorang dengan tulus mampu melepaskan egonya demi yang dicinta, dari situ lah ikatan yang sesungguhnya terjadi. Stick together for better or worse. Kita emang gak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan, tapi kita bisa memilih dengan siapa akan menghabiskan hidup bersama. Ternyata gw gak salah pilih. Dengan pertimbangan itu, gw pun menjadikan suami sebagai salah satu faktor penentu jalan hidup. Restunya adalah berkah buat gw, pun sebaliknya. 
Oke oke, sekarang balik ke laptop. Seperti biasa, gw tipe yang suka bikin list plus minus kalau sedang bingung menentukan pilihan. Jika plusnya lebih banyak, gw akan mengikut itu. Jika hasilnya seri atau gw masih galau, keputusan itu gw kembalikan ke Yang Maha Kuasa. Istikhoroh adalah koentji! 
Baiklah sekarang gw akan bikin list plus minus S3 di dalam dan luar negeri ala gw dengan spec: sudah menikah, belum punya anak, dan lagi nyicil KPR.

Plus minus S3 di dalam negeri:

Plus

1. Seatap dengan suami, gak LDR

2. Bisa sering ngumpul sama orangtua. Apalagi orangtua umurnya udah di atas 60an. Sedih juga kalo ditinggal sekolah… Nanti kangen huhu

3. Bisa sambil program hamil, lumayan waktu jadi lowong karena bisa sambil kuliah sambil kontrol ke dokter. Hohoho

4. Pengalaman sebagai fulltime ibu rumah tangga

5. Bisa belanja furniture, bikin desain interior rumah dan taman. Kalau kuliah di luar, terpaksa furniture rumah apa adanya dulu. Sayang kalau dikontrakkan nanti barang-barang pada rusak ga kerawat huhu

6. Bisa sering-sering konferensi ke luar negeri 

7. Disertasi pakai bahasa Indonesia 

Minus

1. Gak dapat pengalaman sekolah di luar negeri

2. Gak ada kesempatan full day berbahasa asing, baik itu berbicara, berpikir, dan menulis

3. Gak bisa mengembangkan jejaring alumni yang lebih internasional. Padahal ke depannya penting banget nih!

4. Terbatas akses buku dan jurnal internasional gratis

5. Ambience-nya kurang mendukung belajar. Bisa-bisa bawaannya mager karena “hanya” di rumah 

6. Kuliah di dalam negeri masih dianggap kurang prestisius. Apalagi ketika teman-teman lo pada lanjut di luar negeri. Duh peer pressure ini mah hehehe

Plus minus S3 di Luar Negeri:

Plus

1. Iklim akademik sangat menunjang karena ada feel udah jauh-jauh sekolah ke luar jadi harus semangaaaat

2. Akses buku dan jurnal internasional gratis melimpah ruah

3. Bisa dibimbing sama profesor kelas dunia

4. Punya teman kuliah dari berbagai negara, berarti link makin besar dan akan dapat update macam-macam ilmu yang belum kita dengar sebelumnya

5. Yah walau bagaimana pun lulusan luar masih dianggap lebih prestisius daripada dalam negeri. Intinya mah CV jadi kece dan banyak yang respek sama kita hehe

6. Dapat exposure kegiatan ilmiah yang lebih besar, semarak, dan beragam

7. Suami bisa les bahasa asing dan ambil sertifikasi pangan. Sambil menyelam minum air

Minus

1. Karir suami jadi taruhan. Tidak ada kepastian suami bisa dapat pekerjaan yang layak setelah balik ke Indonesia

2. Jauh dari orangtua. Kalau ada apa-apa, agak repot jadinya. Sebab gw pergi pakai paspor biru, jadi kalau mau keluar negeri harus ada izin permit dari Kedubes 

3. Kalo dengar cerita dari teman-teman yang lagi PhD di luar, tugas dan bahan bacaannya nampoooooooool!! Banyak yang ga mampu mengendalikan esmosi karena setres. Takut suami kena imbas wkwkwkwk

4. Yah namanya juga kuliah di luar yang literally lebih maju, tak jarang banyak yang terseok-seok karena secara teori jauh tertinggal dari rekan-rekan seangkatan. 

5. Tak dapat dipungkiri, kendala bahasa. Apalagi kita dari negara yang bukan berbahasa Inggris, pasti kesulitan membaca literatur yang bahasa Inggrisnya rada sophisticated

6. Nasib promil gw gimana dooong… huhuhu. Kalo KPR mah Insya Allah gw yakin bisa nutup. Hehehe

Sementara baru itu yang kepikiran. Lhaaaaaaaaa kok seimbang?? Huhuhu. 
Aduh mak ini saya butuh bantuan ladies and guys untuk komen dan kasi second opinion, plisssssssssss. Sambil gw istikhoroh juga. Moga-moga dapat petunjuk dari Allah. Aamin.

Makasi gaes!

Jakarta, 1 November 2017 (Pk.23.00)

Chibi Ranran

Iklan

Perjalanan Hidup

13 Agu

Bagaimana jika akhirnya gw memutuskan untuk mengambil program doktoral di Indonesia saja? Bukan di luar negeri seperti yang sudah gw rencanakan. 
Family comes first.
Sebelum menikah, gw bertanya ke suami gw bagaimana jika gw sekolah ke luar negeri. Apa yang akan dilakukan?. Dengan cepat ia menjawab akan ikut menemani meskipun ia harus menjadi suami rumah tangga dan melepaskan pekerjaannya. 
Dalam hati gw berpikir, akhirnya gw menemukan orang yang selama ini gw cari.
Lalu, setelah menikah gw pun mendorong suami untuk lanjut kuliah. Dengan pemikiran karena gw akan S3, maka gw berharap dia bisa lanjut S2 dulu seperti yang ia impikan. 
Ia kemudian melanjutkan kuliah di almamaternya dulu. Dengan jurusan yang sama agar  tetap linier. Mana tau nanti bisa nyambi jadi dosen. Meskipun akhirnya, effortnya harus berkali lipat karena tiap Jumat dan Sabtu harus bolak balik Jakarta Bogor.
Sambil menanti dia selesai kuliah, gw ikut konferensi sana sini baik di dalam maupun luar negeri. Bagus untuk memperkuat CV, menambah ilmu, dan network di kalangan akademisi. 
Suami gw adalah orang yang mengingatkan gw untuk belajar. “Yaang, kok kamu udah lama gak bikin jurnal lagi? Nulis lagi dong yaang…” begitu kata selalu.
Kalau ada konferensi, dimana pun tempatnya dan berapa lama pun durasinya, dia selalu mensupport gw untuk apply. “Apply aja dulu yaang.. kali-kali rejeki” katanya.
Kini, satu tahun sebelum dia lulus, gw mulai ancar-ancar untuk apply S3. Beberapa kali berkomunikasi dengan professor-professor untuk meminta saran tema dan universitas. 
Suami gw pun semangat dan bersiap untuk menemani gw kuliah. Bahkan, resignation dia dari kantor lama ke kantor baru, salah satu alasannya untuk nemenin gw kuliah. Pindah ke kantor baru yang multinational company dan memiliki cabang di negara-negara incaran studi gw. Dengan harapan, ada kemungkinan mutasi di negara tempat gw studi nanti. Agar ia tidak hanya menjadi suami rumah tangga. Agar ia tetap bisa berkarir sambil menemani gw kuliah.
Namun, mendadak gw berhenti sejenak. Tertegun dan berpikir ulang rencana studi di luar negeri itu. Segala plus minus gw pikirkan sambil konsultasi sana sini ke rekan-rekan yang telah menjalani itu semua. 
Merefleksikan pengalaman senior yang S3 di luar negeri. Ada yang bawa keluarga (suami dan anak), ada yang hanya bawa suami atau anak, ada yang sendirian dan meninggalkan keluarganya di tanah air. Masing-masing memiliki cerita, usaha, dan upaya yang tidak sedikit. 
Beruntunglah bagi yang pergi bersama keluarga karena ada support system selama studi di luar negeri. Namun, karir suami menjadi imbas besar karena meninggalkan semua yang sudah dibangun sejak lama. 
Bagi yang berangkat sendirian, riak rindu kerap membuncah dalam hati. Hari-hari sepi dilalui sambil tetap berjibaku menghadapi supervisor, buku bacaan wajib, tugas, dan sebagainya. 
Lalu, dimanakah posisi gw akan berada?
Kemudian, gw akhirnya memahami sudut pandang rekan-rekan yang sangat mumpuni dalam keilmuannya namun memutuskan untuk tetap studi di dalam negeri. Melepaskan kesempatan belajar di tempat baru yang asing dan jauh dari rumah. Semua itu untuk satu hal, keluarga. 
You never know how it feels until you go through it.
Bapak gw selalu mencontohkan bahwa keluarga adalah yang paling utama. Beberapa kali ia melepas kesempatan studi di luar negeri karena tak tega meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Beberapa kali pula ia melepaskan promosi jabatan karena tempat baru itu berada jauh dari rumah. Memang, istri dan anak bisa turut diboyong ke sana. Namun, egonya mengalahkan kasih kepada istri dan anak-anaknya. Sebab ia tahu bahwa sang istri adalah perempuan yang mencintai pekerjaannya. Dan ia tahu, anak-anaknya tidak bersemangat terhadap proses adaptasi di lingkungan baru. Jika ia memaksa untuk pergi, apakah keluarganya akan bahagia?
Akhirnya, bapak gw memilih tetap tinggal di sini bersama keluarganya. Sampai saat ini, apakah ia menyesal? Ternyata tidak. Sebab baginya, yang membuatnya bahagia adalah keluarga yang harmonis, bukan jabatan dan gelar pendidikan.
Suatu ketika, gw pun bertanya ke suami. Bagaimana jika gw melanjutkan pendidikan di dalam negeri, bukan di luar negeri seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Dengan tersenyum suami gw menjawab, “dimana pun itu, yang penting kamu bahagia.”
Bahagia.
Tiba-tiba saja gw menyadari sesuatu. Tampaknya gw berubah. Jika dulu bersekolah di luar negeri adalah life goal dan sesuatu yang paling gw impikan, ternyata kini tidak lagi. Yang paling berharga buat gw adalah keluarga. 
Family comes first.

Jakarta, 13 Agustus 2017 (3.39 pm)

Chibi Ranran

Perjuangan Mencari Rumah (Part 1)

22 Jul

Well, gw memutuskan untuk menulis ini karena ingin berbagi pengalaman soal (susahnya) mencari rumah. Sebelum nikah, gw selalu bertekad kalau hanya tinggal di apartemen selama satu tahun. Setelah itu gw akan beli rumah. Keyakinan itu selalu gw tanam kuat-kuat dalam hati sambil sesekali sesumbar. Sesumbar bukan untuk pamer atau congkak, tapi ketahuilah.. itu akan membuat impian kita tercapai. Sebab, ada orang-orang yang turut mendoakan. Serta setiap ucapan kita, mana tau ada malaikat lewat lalu didoakan. Aamin..Benar saja, 9 bulan setelah nikah gw mulai gerilya habis-habisan mencari rumah. Hampir setiap minggu gw survei sana sini. Kebanyakan ditemenin bokap, yeah my partner in crime! Hoho. Kadang-kadang ditemani suamik karena Jumat Sabtu dia sibuk kuliah. 

Saran gw, sebelum membeli rumah tentukan dulu mau lokasi dimana. Gw prefer rumah yang dekat dengan orangtua. Apalagi kebetulan rumah mertua gak jauh dari rumah orangtua gw. Jadi ya pas banget. Trus syarat mutlak lainnya adalah harus dekat akses angkot karena gw anaknya suka ngangkot wkwkwk. Kalau dekat akses angkot juga memudahkan ngasih ancer-ancer untuk orang yang mau k rumah kita. Patokan jelas dan Insya Allah kemungkinan nyasarnya kecil. Trus syarat lainnya adalah ada minimarket, warteg (yess gw anaknya doyan makan warteg hahaha), dan mesjid. Biar barokah boo.. dengerin adzan tiap hari. Plus kalo mau tarawih juga jadi gampang. Lalu ada halaman belakang buat jemur. Ya kali jemur baju di depan rumah, segala underware visa berkibar-kibar dilihat tetangga. Wkwkwk. Banyak ya syaratnya? Gak apa, namanya juga harapan. Kan berharap setinggi-tingginya, biar kalau ga kesampaian tetep berada di atas standar. Hohoho

Syarat tambahan yang sifatnya mubah alis kalau ada syukur, kalo ngga ya gak apa-apa adalah bisa parkir 2 mobil. Yah mana tau Allah kasih rejeki dan bisa beli mobil lagi. Aamin. Selain itu, kalau ada tamu juga bisa numpang parkir dan ga nyusahin tetangga karena jalanan rapet. Dan satu lagi, lokasi ga lebih dari 20 kilo dari kantor. Jangan sampe tua di jalan kelamaan. Hikss. Kemudian dimulailah gerilya di daerah radius maksimal 5 kilo dari rumah orangtua dan 20 kilo dari kantor. 

Rumah pertama yang gw survei, langsung jatuh cintrong! Karena semua syarat terpenuhi. Saat itu gw agak congkak karena merasa mencari rumah itu gampang, ga sesulit yang dibilang orang. Yah balik lagi sih jadi manusia jangan congkak yah cinttt… akhirnya gw pun kualat! Wkwkwk. 

Setelah ngasih booking fee Rp5juta (lagi promo, biasanya 10juta), muncullah kekhawatiran alias worst case scenario. Sebab di rumah ini indent alias bukan ready stock. Skema awal gw adalah cash keras atau bayar selama beberapa kali (biasanya 3 kali) dalam periode tertentu. 

Trus kakak gw worried karena kebanyakan developer pada mangkir kalo indent begini. Apalagi kalau udah lunas pembayarannya. Ga ada janji yang bisa dipegang. Kadang ga adil juga sih.. kalo customer yang telat bayar, biaya hangus. Kalo developer yang telat bangun, pinaltinya apa? Nah lho!

Setelah bokap gw konsul sama saudara yang kerjaannya notaris, akhirnya memilih untuk cari rumah ready stock. Masa mau beli sesuatu tapi barangnya belum ada? Lagipula, salah satu indikator developer bonafide adalah yang mampu nyiapin rumah ready stock. Means modalnya banyak. 

Rumah juga perlu disurvei yang secara fisik udah siap. Biar bisa resapi rasanya tinggal di situ. Nyaman atau ngga, betah atau ngga. Pembagian ruangannya suka atau ngga. Feelnya dapet atau ngga. Ada penghuninya atau ngga… Hihihi.

Akhirnya bokap gw pun ngajuin skema pembayaran seperti ini: cash keras 3 kali, pembayaran pertama untuk tanda jadi, pembayaran kedua setelah atap naik, dan pembayaran ketiga saat serah terima kunci. Lumayan win win solution kan. Sama-sama aman. Tapi, emang belum jodoh kali ya.. Setelah deramak yang lumayan ngeselin karena si sales yang gampang baper, akhirnya batal lah gw beli dream house ituh! Gak ngerti gimana ceritanya, terakhir baru tau kalau developernya oke dengan skema yang gw ajukan, tapi si sales kurang informatif. Malahan mutung (ngambek) sampai-sampai ga mau balas wa dan angkat telepon. Ajaib kan? Hahaha. Ya sudahlah, kemudian dimulai lagi babak pencarian rumah. Hohoho

Hampir tiap hari kerjaannya ngubek-ngubek website penyedia layanan jual beli rumah. Subscribed email biar dapat notifikasi. Sebab, cari rumah itu ibarat siapa cepat dia dapat! Pernah suatu ketika nemu iklan rumah yang lokasi oke dan harga juga di bawah pasaran. Pas ngontak salesnya ternyata udah sold out. Padahal baru bulan lalu diiklankan. Luar biasa kan? Jadi ya sempatkan cek notifikasi kalau-kalau ada iklan baru yang sesuai spec yang diinginkan.

Selain itu, gw juga kontak sales-sales dan minta di wa kalau ada info rumah yang oke. Jangan lupa kasih tau segala persyaratan seperti yang gw sebut di atas tadi. Biar para sales bisa sortir dan ngasi info sesuai kebutuhan. 

Jangan patah semangat kalau belum dapat yang cocok di hati. Jangan gegabah juga dalam memutuskan memilih rumah. Perhatikan lingkungan sekitar, resapan air dimana, banjir atau ngga, apakah area itu dulunya tanah urukan atau tanah keras. Hati-hati kalau beli rumah di tanah bekas tanah urukan. Soalnya bangunan rumah bisa cepat retak karena pondasi bawahnya kurang solid. 

Terakhir, banyak-banyak berdoa! Sebab, ini perkara rejeki dan jodoh. Minta dipertemukan dengan rumah yang terbaik menurut Allah, dimudahkan segala upaya, dan rumah yang barokah. Segala sesuatu itu memang perlu diperjuangkan. 

Begitulah kira-kira. Insya Allah akan gw update lagi proses pencarian rumah di part berikutnya. Hoho. Intinya mah semangat!! 

Jakarta, 22 Juli 2017
Chibi Ranran

My Life as a Researcher: BFF 

6 Jul

Tiga sahabat saya ini Insya Allah akan melanjutkan studi S2 tahun ini. Yang satu ke Inggris, yang satu ke Jerman, dan satu lagi ke US. Bangga adalah perasaan yang saya rasakan untuk mereka. Kami berempat bertemu pertama kali tahun 2015 ketika sama-sama menjadi peneliti baru di kantor. Sejak itu, mereka adalah lingkaran terdalam saya di lingkungan para ilmuan muda. 
Saat masih unyu dulu, kami sering berandai-andai melanjutkan sekolah dan ikut konferensi di luar negeri. Sering membicarakan mimpi-mimpi dan sesumbar tentang apa yang akan dilakukan sebenarnya salah satu cara kami untuk menarik perhatian semesta. Demi sebuah teori mestakung atau semesta mendukung. Impian akan menghampiri saat seseorang mau bangun dan bekerja keras meraihnya. Saya tahu sekali perjuangan seperti apa yang mereka lakukan demi meraih semuanya. Tidak ada yang namanya kebetulan, semua adalah hasil usaha, doa, dukungan keluarga dan teman-teman. 
Sukses kalian adalah bahagia saya. Selamat belajar di negeri seberang. “Ditinggal” oleh ketiga sahabat tentu menjadi cambuk bagi saya untuk kembali fokus pada proses menggapai cita-cita tertinggi dalam jenjang akademik. Persiapan adalah hal penting. Namun yang utama adalah berani apply. Tidak ada orang yang akan diterima jika tidak melakukan peng-apply-an! Selamat meng-apply, chib! Insya Allah semesta mendukungmu! Aamin.
Jakarta, 6 Juli 2017

Chibi Ranran

Nyobain Magic Ring SK-II. Wow masih 22 Tahun!

1 Jul

Setelah beberapa bulan pakai produk SK-II, kakak ngajak nyobain magic ring SK-II buat tau kondisi kulit. Di setiap counter SK-II tersedia layanan ini. Dan gratis!! Dan mbak-mbaknya ga nawarin produk lho. Jadi kita ga berasa kikuk atau feel guilty setelah nyoba sesuatu yang gratis. Hehehe 😜
Dari semalam deg-degan juga sih. Sebab tahun ini gw 31 tahun. Kondisi kulit gw kayak apa yaa.. Huhuhu. Kata mbaknya, kalo hasil di atas 50% itu udah bagus. 
Sebelum dites pakai alat, mbaknya menginput data bulan + tahun lahir, jenis kelamin, dan sedang make up atau ngga. Lalu alat pun ditempel di bagian pipi, cekrek, dan voila!

Wah kaget dan seneng banget pas dapat hasil 63%. Overall skin age-nya 22 tahun pula. Sesuatuuuk!! 

Habis nyobain magic ring SK-II buat tau kondisi kulit. Kata mbaknya, kalo hasil di atas 50% itu udah bagus. Alhamdulillah tadi dapat 63% dan skin age-nya 22 tahun. Sesuatuuuk!! 



Mbaknya pun nawarin hasilnya mau difoto atau ngga. Jelas mau! Hihihi. Gak lupa minta selfi bareng mbaknya. Hahaha. Trims SK-II!

Ini postingan bukan endors lho yaaa 😄😄
Jakarta, 1 Juli 2017

Chibi Ranran

My Father My Hero

19 Jun


Gak sengaja muncul memory di timeline Facebook, 19 Juni 2015. Dengan caption “Paling seneng kalo pulang kantor udah ditungguin di pagar sama lansia kece 63 tahun ini… I’m hoooome~ ❤️”
Lansia kece ini sekarang udah 65 tahun lho~~ Duh jadi kangen masa2 waktu pulang ke rumah dan udah ada yang nungguin di pagar. Kata bokap, begitu jadi istri orang harus keluar dari rumah dan hidup mandiri. Jadi, segera setelah ijab kabul diucapkan, malam selepas resepsi gw udah gak pulang ke rumah. Amazed juga sih.. siapa sangka gw bisa hidup berdua suami. Bareng2 ngerjain kerjaan rumah tangga dan ga pakai jasa ART. Masih survived sampai sekarang! 💪🏻💪🏻💪🏻
Love you, dad!
Jakarta, 19 Juni 2017

Chibi Ranran

Happy First Wedding Anniversary

29 Mei

Wow! Waktu cepat juga berlalu. Ternyata sudah satu tahun menikah dengan teman SMP kesayangan. Hahaha. 
Lelaki yang mengaku introvert itu mengirim mawar ke kantor gw. Alamak meleleh! Ini bunga ketiga yang gw terima dari dia. Yang pertama waktu persiapan nikah dikasih anggrek. Yang kedua dikasih mawar merah saat ulang tahun ke 30 Juli lalu. Lalu ini yang ketiga.

Pas lagi serius ngerjain tulisan, tiba-tiba ada yang ngetok ruangan. Masuklah mas-mas delivery yang membawa bunga cantiiik sekali! Padahal saat itu lagi hujan deras. Wah dedikasi nih si mas-mas.
Gak lama suami nelepon ke HP. Dia bertanya bunganya sudah sampai atau belum. Sukses dikasih surprise!! Apalagi kata-katanya bikin melting… Makasih sayang ❤️

Jakarta, 29 Mei 2017

Chibi Ranran