Tag Archives: hijab cosplay

[Pengalaman Konferensi di Luar Negeri] Ketika Islam dan Budaya Populer Jepang Bersemi di Washington DC

29 Jun

Oleh Ranny Rastati (Peneliti PMB LIPI)

Tahun 2018 adalah kali kedua saya mengikuti konferensi Association for Asian Studies (AAS). Jika tahun sebelumnya saya hanya menjadi peserta aktif di AAS Toronto-Kanada, maka tahun ini saya berkesempatan menjadi pembicara yang tergabung dalam panel Islam and Japan Pop Culture. Sebuah tema besar yang menurut pengamatan saya sedang menjadi isu hangat nan seksi di mata para sarjana internasional.

Dari awal saya merasa tertarik untuk membahas pertemuan antara agama dan budaya populer yang saat ini sedang muncul sebagai fenomena yang marak terjadi. Berbekal studi tentang hijab cosplay, saya pun mengajak tiga orang rekan untuk membentuk tim dan mengirim proposal ke panitia konferensi. Berbekal jejaring yang saya dapatkan dari konferensi dan kegiatan sebelumnya, terkumpullah ilmuan-ilmuan muda yang memiliki minat sama dengan saya. Mereka adalah Himawan Pramata dari Universitas Indonesia dengan tema novel Islami bertema Jepang, Suraya Md Nasir dari School of Manga Kyoto yang membahas Manga Islami di Malaysia, dan Roberto Masami dari Universitas Bina Nusantara yang meneliti halal food dan konsep omotenashi Jepang.

Karena memiliki inisiatif membentuk panel, maka saya pun harus mengampu tanggung jawab sebagai chair merangkap organizer. Selain mengumpulkan abstrak dari seluruh anggota, saya pun harus membuat elaborasi riset tim yang menunjukkan benang merah masing-masing tema individu. Dengan mengucap basmallah, proposal yang disiapkan pun saya kirimkan ke email panitia.

29512431_10155622407718020_7654664427511376316_n

Secara garis besar, panel Islam and Japan Popular Culture menitikberatkan pada pertemuan antara nilai-nilai Islam dengan budaya populer yang semakin digemari khususnya di Indonesia dan Malaysia. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, generasi muda di Indonesia dan Malaysia menghabiskan masa kecilnya dengan mengkonsumsi manga (komik Jepang) dan anime (animasi Jepang) seperti Doraemon, Naruto, dan One Piece tanpa mengabaikan ajaran agama yang dianut. Anak muda Muslim malah melihat budaya populer Jepang sebagai fenomena menarik yang dapat dikombinasikan dengan nilai-nilai Islam.

Hijab cosplay misalnya, menjadi sebuah solusi bagi pemakai hijab yang ingin ber-cosplay tanpa melepas hijab yang ia kenakan. Hijab cosplaykemudian menjadi penanda religiusitas dari para penggemar budaya Jepang. Dalam perkembangannya, hijab cosplay pun memiliki karakteristiknya sendiri yaitu hijab cosplay stylish (bergaya) dan hijab cosplay syar’i. Jika hijab cosplay stylish lebih mengedepankan gaya dan kostum seperti membentuk hijab seperti model rambut karakter yang di-cosplay-kan, hijab cosplay syar’i lebih memandang hijab sebagai salah satu bentuk dakwah kreatif yang mengikuti perkembangan zaman. Kostum yang dikenakan pun lebih longgar, menutup dada, dan model hijab yang cenderung konvensional.

Senada dengan hijab cosplay, presentasi tentang manga Islami yang disampaikan oleh Suraya pun menjelaskan bahwa munculnya manga Islami di Malaysia dilakukan untuk mengedepankan isu identitas lokal dan representasi Islam yang dianggap sebagai bagian dari identitas Malaysia. Manga Islami Malaysia pun berpotensi menjadi produk budaya global yang dapat diekspor ke negara-negara Islam.

Selain itu, tema lain yang diangkat dalam panel adalah novel Islami bernuansa Jepang yang disampaikan oleh Himawan. Jepang dianggap sebagai objek kekaguman di kalangan anak muda Indonesia. Novel religius bertema Jepang pun dibuat sebagai salah satu misi dakwah yang sesuai dengan selera pasar. Tema terakhir adalah halal food yang dibawakan oleh Roberto. Konsep halal food sejatinya mirip dengan konsep omotenashi yang ide dasarnya adalah mengantisipasi kebutuhan pelanggan. Perkembangan halal food di Jepang merupakan pengejawantahan dari konsep omotenashi yang berupaya memberikan layanan terbaik kepada pelanggan.

Satu hal yang saya syukuri adalah apresiasi dari para peserta mengenai panel Islam dan Japan Pop Culture. Review yang baik kami terima mulai dari dianggap oleh salah satu peserta sebagai panel terbaik yang ia ikuti selama konferensi 4 hari hingga disebut sebagai para pionir dari isu yang tengah menyeruak di kalangan akademisi sosial dunia.

29541616_10155622587983020_4601267903637094821_n

Selepas presentasi, kami banyak dihampiri oleh audiens yang berminat lebih jauh tentang pertemuan antara agama dan budaya populer. Seiring dengan mekarnya bunga-bunga musim semi, saya merasakan sebuah harapan akan terjalinnya kedalaman pemahaman tentang sebuah negosiasi yang terjadi antara identitas keislaman dan identitas kehobian yang bertemu di persimpangan. Saatnya bangsa Indonesia menerjemahkan dirinya sendiri dan dari sudut pandangnya sendiri (Ranny Rastati, M.Si/Peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI)

*) Dipublikasikan pertama kali di http://psdr.lipi.go.id/news-and-events/opinions/ketika-islam-dan-budaya-populer-jepang-bersemi-di-washington-dc pada 28 Juni 2018

Iklan

Finally ke Washington DC, Amerika! (Tentang Paspor Biru dan Visa Dinas)

10 Mar

Akhirnyaaa~~ impian masa kecil terwujudkan juga! Akhirnya Amerikaaa!!

Hehehe. Tenang.. tenang. Mau tau gimana ceritanya gw bisa ke Amerika?

Jadi gini, tahun lalu gw ikut konferensi studi Asia di Toronto, Kanada. Penyelenggaranya Association for Asian Studies (AAS). Flight gw dari Jakarta ke Toronto ternyata melintasi Washington DC. Walaupun cuma lewat dari udara, gw bertekad dengan keyakinan kuat kalo 2018 gw akan ke sana!

Well, siapa sangka, konferensi AAS 2018 venue-nya di Marriott Wardman Park Hotel yang bertempat di Washington DC. Ibukotanya Amerika plus ada Lincoln Park yang pengen banget gw kunjungi. Gw bahkan punya foto Lincoln Park yang ditempel di pintu lemari baju. Jadi tiap bangun tidur yang langsung dilihat foto itu. Hahaha. Siapa sangka, semesta kembali mendukung langkah kaki gw. Alhamdulillah ya Allah…

Nah, balik lagi ke AAS, gw pun ngontak teman-teman untuk bikin panel di AAS. Karena tema abadi gw adalah hijab cosplay, gw pun membuat panel Islam and Japan Pop Culture. Kenapa Islam and Japan Pop Culture? Selain itu tema yang gw suka, tema itu pun sedang naik daun di kalangan scholar internasional. Kenapa mesti bikin panel? Karena menurut panitia, peluang lolos seleksi untuk panel lebih besar daripada apply individual.

Satu nama yang langsung muncul dalam otak gw adalah Suraya Md Nasir asal Malaysia yang lagi PhD di Kyoto Seika Daigaku. Gw ketemu dia waktu konferensi di Cebu, Manila dan temanya adalah Hijab Manga. Wah cucok meoooong ya cintt!

Lalu, nama kedua adalah Roberto Masami. Gw baru kenal dia waktu pertemuan Japanscope di Japan Foundation Jakarta. Waktu itu, gw sama dia dikelompokin dalam panel yang sama karena temanya Roberto adalah Halal Food.

Karena 1 panel isinya minimal 4 orang, gw pun mengontak Himmi alias Himawan Pratama yang kapabilitasnya ga perlu dipertanyakan lagi. Setelah ngobrol-ngobrol via WA, Himmi pun bersedia ikut dan tema yang akan dia angkat tentang novel Islami yang bertema jejepangan.

Olraaaait! Formasi sudah lengkap, gw pun membuat time table untuk tim. Kapan harus kumpulin abstrak individu, kapan bikin abstrak tim, kapan deadline proposal, dll. Dengan langkah tegap maju jalan, proposal tim gw submit beberapa hari sebelum deadline. Sambil harap-harap cemas, moga keterima. Karena kabarnya, tingkat kesulitannya lumayan tinggi. Setelah usaha, doa, tinggallah keyakinan. Gw selalu positive thinking bahwa proposal ini akan lolos seleksi dan tim kami akan presentasi di Amerika.

Total kurang lebih 6 bulan dari persiapan (ngumpulin orang-orang) sampai pengumuman hasil. Daaaaaaaaan KAMI LOLOS!! Yay~~~ Wah happy banget! Luar biasa rasanya. Tapi tunggu! Jangan terbawa suasana dulu. Masih ada tahap apply visa yang harus dilalui. Ini yang bikin deg-degan parah lahir batin jiwa raga!!

Gw mau cerita sedikit soal kekonyolan gw waktu bikin visa Amerika. Waktu itu tanggal 22 Desember 2017, gw bikin janji wawancara di kedutaan. Well, tahapan isi form aplikasi visa dan pembayaran di CIMB gw skip yaa.. Karena udah banyak banget blog yang bahas.

Naaah… Kalau diingat-ingat, waktu itu gw mixed feeling antara kaget, seneng, dan sedih. Wkwkwk. JSetelah rempong sana sini ngurus kelengkapan visa Amerika, gw pun bikin janji temu hari ini jam 7 pagi. Dari semalam udah ga bisa tidur karena grogi campur deg2an. Ini sih efek baca-baca blog tentang sulitnya mendapatkan visa Amerika.

Tepat jam 6.30 gw udah sampe di Kedutaan. Langsung disuruh masuk ke dalam untuk dicek berkas. Pas sampe ruang tunggu, gw dapat urutan no 33. Wah lumayan juga nunggunya. Tibalah saat yang paling menegangkan bagi semua orang, yaitu ketika masuk ke ruangan untuk sesi interview dengan pejabat konsulat yang semuanya orang Amerika. Sambil nunggu, kita bisa nyimak pertanyaan dan jawaban dari orang-orang yang diinterview. Ada yang diinterview pake bahasa Inggris ada juga yang pakai bahasa Indonesia. Kelihatan sih ada yang grogi, ada yang excited, dan ada yang santai. Yang visanya lolos relatif yang lebih rileks saat diinterview dan tujuannya jelas.

Tibalah giliran gw yang dipanggil. Jreng jreng… Mbak yang interview ngeliet paspor gw. Kebetulan gw apply pakai paspor dinas aka paspor biru.

Percakapannya seinget gw begini:

Mbak: Apa tujuan ibu pergi ke Amerika?
Gw: Menghadiri konferensi Association for Asian Studies di Washington DC
Mbak: Boleh saya lihat undangan?
Gw: Silahkan *sambil nyodorin*
Mbak: Ibu pergi mewakili Indonesia atau nama sendiri?
Gw: Mewakili Indonesia
Mbak: Aduh ibu seharusnya pakai visa dinas. Tidak perlu wawancara dan tidak perlu bayar… Gratis. Karena ibu pakai paspor dinas.
Gw: *kaget* Oh gitu ya. *Padahal dalam hati: apaaahh?? Gratisss?? Oooh dua jutakuuu… huhuhu*
Mbak: Iya ibu. Kalau pakai visa dinas, ibu tidak boleh jalan-jalan sama keluarga atau ke Disneyland. Kalau pakai visa di paspor biasa, ibu bisa jalan-jalan.
Gw: *Ngangguk2*
Mbak: Ibu ada paspor biasa?
Gw: Ada
Mbak: Baiklah. Saya buatkan surat dari sini untuk mengurus visa dinas ya. Ibu minta diuruskan oleh kantor saja, tidak perlu urus sendiri. Bisa kirim lewat kurir, tidak perlu datang lagi.
Gw: Makasih ya
Mbak: Ibu ini suratnya. Karena ibu adalah perwakilan negara Indonesia, pakai visa dinas ya. Nanti kirim juga paspor biasa ibu. Kami akan issued 2 visa. Satu di paspor dinas, satu lagi di paspor biasa. Ini saya kembalikan dokumen dan paspor dinasnya. Terima kasih.
Gw: Baik, terima kasih ya…

Trus langsung nelpon kantor dan nanya tentang visa dinas ini. Terjadilah kehebohan dan gw diketawain. “Aduuuh gimana sih mbak.. Terlalu inisiatif. Sayang duidnya udah keluar. Padahal mah buat kita gratis. Wkwkwk”. Lalu berkas-berkas itu pun gw serahkan ke kantor.

Well, tampaknya tentang ini harus gw tulis di blog. Sebab selama proses pengurusan visa, gw baca banyaaaaaak banget blog tentang pengalaman masing-masing orang. Sayangnya ga nemu blog yang membahas visa Amerika untuk paspor dinas/biru. Ini pun menjadi pembelajaran yang berharga.

Hikmah yang membahagiakan hari ini adalah ekspektasi bikin 1 visa, malah mau dikasih 2. Rejeki rejeki… Dan satu lagi, kalau pakai paspor dinas tuh jangan urus sendiri. Serahkan saja sama ahlinya. Hehehe.

Sooo~~ what to do wahai pemilik paspor biru atau dinas yang mau apply visa Amerika? Yang pertama adalah lapor sama bos kalo lo mau ke Amerika dan minta dibuatkan surat pengantar ke divisi yang ngurusin perihal perjalanan dinas. Kalo di tempat gw namanya Biro Umum. Apa aja ceklisnya:

  1. Surat Pengantar dari Atasan (bahasa Indonesia, kop instansi, ttd cap basah)
  2. Letter of Invitation dari pengundang
  3. Jadwal kegiatan konferensi (yang ada nama kita kapan akan presentasi)
  4. Form daftar riwayat hidup (bahasa Indonesia)
  5. Short cv (2-3 halaman aja, berbahasa Inggris)
  6. Fotokopi KTP
  7. Paspor biru
  8. Bukti bayar visa Amerika
  9. Rancangan Anggaran Belanja (RAB). Ini tuh kayak rincian dana yang akan dipakai selama di sana. Isinya seperti berapa biaya tiket, hotel, makan, transportasi.
  10. Copy Aplikasi form DS 160 (jangan lupa sesuaikan jenis visanya. Kalau gw pakai visa A2 untuk konferensi). Sebenarnya ini ga diminta sih, tapi buat jaga-jaga, serahkan aja deh. Kalo gak kepake bakal dibalikin kok.

Kira-kira 4-5 hari, visa dinas gw issued! Yay~ Gak hanya itu, visa B1/2 di paspor hijau pun keluar juga! Wah rejeki banget. 2 paspor, 2 visa issued.

Oke, masalah visa kelar. Saatnya packing dan persiapan lahir batin menempuh perjalanan 25 jam! Hihihi

Ntar gw update tentang perjalanan selama di Washington DC yesss~~ ❤

 

Jakarta, 10 Maret 2018

Chibi Ranran

 

Pro & Cons: The Rise of Hijab Cosplay in Indonesia

27 Jul

By Ranny Rastati

Post-World War II, Japan recovered their international outlook by building diplomatic relations with many other countries, including Indonesia in 1958.  Among those efforts is cultural diplomacy which was started in 1974, when Japan founded a cultural institution named the Japan Foundation that aimed to improve relations through cultural approach (Lam, 2013). This cultural diplomacy conducted through drama, manga, and anime. Eventually, these developments of Japanese popular culture are well accepted among Indonesian society.

One of the most popular Japan cultural products in Indonesia is cosplay (an abbreviation of costume play). It is an act where people use costume and imitate their favorite characters from anime, manga, film, or games. Cosplay phenomenon are introduced to Indonesian public in mid 90s. It was started when Japan Studies student of University of Indonesia held the first Japan festival called Gelar Jepang in 1994 (Rastati, 2015). Not only introduce Japanese traditional cultures such as Kimono (traditional clothes) and Ikebana (flower arrangement), Gelar Jepang also familiarized cosplay during the festival. However, it took more than one decade from the first festival before the first cosplay group was initiated in Indonesia. One of the first groups is The Endless Illution that was formed in 2004. One of the reason of this late development was because costume-making materials were expensive.

queen of luna
Queen of Luna as Black Lady from anime Sailormoon (Source: Instagram Queen of Luna)

From time to time, cosplay phenomenon grew into various interesting developments. Several phenomena occurred such as, Crossdress  (male cosplaying female character, vice versa) which was started in 2004 to 2009, Indocosu (cosplaying Indonesian manga and anime characters) in 2009 to 2010 and Hijab Cosplay (hijabi cosplaying character without releasing the hijab) in 2011-2012 until present. The latter phenomenon actually is not only happened in Indonesia, but also in Muslim majority countries such as Malaysia and Middle East.

One of the biggest cosplay groups in Indonesia that accommodated hijab cosplay is the Islamic Otaku Community (IOC). IOC was established in 2014 with more than 5.000 members that spread in Jakarta, Sumatera, Makassar, Malaysia and United Kingdom. IOC uses social media to reach the audience and introduces the hijab cosplay. On Facebook, IOC have page with more than 4.600 Likes, in Instagram with more than 1.500 followers and also website. Furthermore, as a group IOC activities is not limited on attending Japan festival and doing hijab cosplay, but also expanding their influence through Islamic manga and charity events.

In 2016, I conducted online open survey about perception on cosplay and hijab cosplay. The respondent amounted to 50 people with a ratio of 60% female and 40% male, with ages between 36 to 19 years old. Roundly, 96% respondents mentioned that they know about cosplay and only 4% claimed not knowing about it. Meanwhile, data becomes different when asked about hijab cosplay. In contrast, 28% stated do not know about hijab cosplay and only 72% declared know about it.

Perception-on-hijab-cosplay

More surprisingly, 40% respondents do not agree on hijab cosplay and only 60% expressed their approval on it. Several reasons appear to come up behind their answers. Disagreeing group mentioned that hijab cosplay is not in accordance with sharia or Islamic instruction on women’s clothes. For them, hijab’s purpose is to cover awrah not for other purpose such as cosplay. Furthermore, they stated that hijab cosplay is only ruining manga and anime character because the way the hijab cosplayer appropriate hijab is perceived as not suitable.

Meanwhile, the agreeing party contended that hijab cosplay may be accepted as long as the player covering their awrah. Respondents who are pro-hijab cosplay argued that Muslim girl have a right to do cosplay and it became a proof that no boundary in creativity in Islam. Hijab cosplay also a solution for hijabi who wants to do cosplay without removing their veil. Moreover, hijab cosplay can be one of the medium of da’wah or preaching Islam and make Islam known to the whole world especially for Japanese lover community. To accommodate two views on hijab cosplay, IOC have a rule for hijab cosplayer in accordance with the sharia such as not posing excessively, not wearing tight costume and hijab must covering the chest.

Agree with hijab cosplay

As conclusion, not only IOC become the place for cosplayers, IOC also accommodate hijab cosplayers to do their hobby without neglecting their Muslim identity. Social media help IOC to spread information about Islam especially hijab cosplay. Through social media, IOC wants to give a message that hijab does not restrict anyone’s creativity. (Editor: Ibnu Nadzir)

***

*) Part of the paper presented at the 5th Bi-Annual International Conference of the Japanese Studies Association of Southeast Asia (JSA-ASEAN) titled “Islamic Otaku Community: Creative Da’wah through New Media and Hijab Cosplay” in Cebu City – Philippines on 15-16 December 2016

**) Link for further reading (available in Indonesian language) -> http://jmb-lipi.or.id/index.php/jmb/article/view/326

***) First published on http://pmb.lipi.go.id/pro-cons-the-rise-of-hijab-cosplay-in-indonesia/

References

Craig, T. J. (Ed). (2000). Japan Pop!: Inside the World of Japanese Popular Culture. New York: M.E Sharpe

DeCoursey, C.A. (2014). Dressing and Being: Appraising Costume and Identity in English Second-Language Drama. English Language Teaching, vol 7, No 2, p 131-143

Lam, P. (Ed). (2013). Japan’s Relations with Southeast Asia: The Fukuda Doctrine and Beyond. London and New York: Routledge

Lamerichs, N. (2011). Stranger than Fiction: Fan Identity in Cosplay. Transformative Works and Cultures, vol 17, p 1-18

Rastati, R. (2015). Dari Soft Power Jepang Hingga Hijab Cosplay. Jurnal Masyarakat dan Budaya LIPI Vol 17, No 3, p.371-388

Rosenberg R.S and Letamendi A.M. (tt). Expression of Fandom: Findings from a Psychological Survey of Cosplay and Costume Wear. Intensities: The Journal of Cult Media, p.9-18

Hijab Cosplay as Luffy One Piece

29 Apr


Since Luffy has simple outfit and I have Luffy’s hat. 😄😄😄 Btw, I’m in Subang-Malaysia to attend the first hijab cosplay event Malaysia. Pretty cool!
After that, I spent holiday with my loved one… This is our second time in Malaysia as husband and wife. 😘

Malaysia, 29 April 2017

Chibi Ranran

Hijab Cosplay as Grim Reaper from Goblin Korean Drama

31 Jan

Kepopuleran drama Korea alias drakor semakin ngehits di Indonesia dan seluruh dunia. Sampai saat ini, Goblin adalah drakor paling greget yang pernah gw tonton sejak tahun 2000an. Selain Goblin yang masih jadi favorit gw sampai sekarang adalah Endless Love (Autumn in My Heart), Rooftop Prince, dan My Love from the Star. 

Salah satu karakter di drakor Goblin yang bikin gemes itu si Grim Reaper yang dalam bahasa Korea disebut 저승 사자 (baca: jeoseung saja). Apa pasal? Sebab gak biasanya karakter ini ditampilkan sebagai sosok yang unyu dan menggemaskan. Lee Dong Wook emang perfect lah!!

Cusss aaah hijab cosplay ala-ala jadi Grim Reaper dulu. Wkwkwk. 
Jakarta, 31 Januari 2017

Chibi Ranran